Monumen Guru Patimpus Sembiring Pelawi, Jejak Sang Pendiri Kota Medan

Monumen Guru Patimpus Sembiring Pelawi, Jejak Sang Pendiri Kota Medan

Olivia Andrea - detikSumut
Kamis, 05 Mar 2026 05:00 WIB
Monumen guru Patimpus Sembiring Pelawi (Olivia Andrea/detikSumut)
Foto: Monumen guru Patimpus Sembiring Pelawi (Olivia Andrea/detikSumut)
Medan -

Monumen Guru Patimpus Sembiring Pelawi terletak di perempatan Jalan Gatot Subroto dan Jalan S. Parman, Petisah Tengah, Kota Medan. Patung ini menampilkan sosok Guru Patimpus Sembiring Pelawi, sang pendiri Kota Medan, dengan balutan busana adat sambil menggenggam tongkat, melambangkan figur pemimpin sekaligus tokoh berpengaruh pada zamannya.

Tugu bersejarah yang menjadi pengingat lahirnya kota multikultural ini. Monumen itu tidak hanya berfungsi sebagai ornamen kota, tetapi juga menjadi wujud penghormatan terhadap tokoh pendiri Kota Medan yangkontribusinya terus dikenang oleh masyarakat. Pada bagian relief tugu, tergambar suasana awal wilayah Medan saat pertama kali dirintis sebagai permukiman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Catatan sejarah menyebutkan Guru Patimpus Sembiring Pelawi merupakan tokoh berdarah Karo yang lahir di Ajijahe, Kabupaten Karo sekitar tahun 1540. Ia kemudian menelusuri wilayah pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura hingga mendirikan sebuah perkampungan bernama Kampung Medan sekitar tahun 1590. Wilayah inilah yang kemudian berkembang menjadi Kota Medan sekarang," ungkap sejarawan, Budi Agustono, Rabu (4/3/2026).

Budi menambahkan, nama Medan diyakini berasal dari istilah "Kuta Madan" dalam bahasa Karo yang memiliki makna kampung yang aman, nyaman, serta membawa kesehatan bagi penghuninya. Berdasarkan kajian sejarah resmi, Pemerintah Kota Medan menetapkan 1 Juli 1590 sebagai tanggal berdirinya kota.

ADVERTISEMENT

"Pembangunan Monumen Guru Patimpus merupakan bentuk apresiasi atas jasa pendiri kota sekaligus media pembelajaran sejarah bagi generasi penerus," jelasnya.

Keberadaan Monumen Guru Patimpus menjadi penghubung antara masa lampau dan masa kini, menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap asal-usul Kota Medan.

Selain memiliki nilai historis, area monumen juga dilengkapi dengan air mancur serta relief bernuansa sejarah yang menjadikannya lokasi favorit untuk destinasi edukasi dan aktivitas fotografi masyarakat.

Artikel ini ditulis Olivia Andrea, peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom




(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads