Besi Penang di Jantung Bedagai: Jejak Modernisasi Sultan Ismail

Besi Penang di Jantung Bedagai: Jejak Modernisasi Sultan Ismail

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Selasa, 03 Mar 2026 10:45 WIB
Masjid Jamik Ismailiyah
Foto: Masjid Jamik Ismailiyah (Dok. Facebook Malayoe soematra timoer)
Serdang Bedagai -

Di tepian Sungai Bedagai, berdiri sebuah monumen yang menentang zaman. Masjid Jamik Ismailiyah, peninggalan paling ikonik dari Sultan Ismail Sulung Laut (Sultan Bedagai ke-VIII).

Bukan sekadar rumah ibadah, masjid ini bukti nyata kejayaan maritim dan jaringan perdagangan Kerajaan Negeri Bedagai yang menjangkau mancanegara. Pada tahun 1937, Sultan Ismail melakukan perombakan besar-besaran terhadap masjid ini.

Dia tidak ingin membangun masjid biasa. Ismail ingin sebuah bangunan yang melambangkan kemajuan negerinya. Maka, mulai lah sebuah operasi logistik yang luar biasa pada masa itu:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€’ Besi-besi penyangga utama dipesan dan didatangkan langsung dari Pulau Penang, Malaysia.

β€’ Lantai marmer putih kualitas terbaik dibawa melalui jalur laut dari Tiongkok.

ADVERTISEMENT

β€’ Atap seng premium didatangkan dari Eropa, yang hingga kini terbukti tangguh menahan cuaca pesisir tanpa mengalami korosi parah.

Dalam catatan sejarah Kesultanan Bedagai yang dirangkum oleh para peneliti sejarah Melayu, keinginan Sultan Ismail dalam membangun masjid ini memiliki visi yang sangat kuat.

"Sultan Ismail Sulung Laut membangun Masjid Jamik Ismailiyah dengan material terbaik dari luar negeri agar menjadi simbol bahwa Islam adalah agama yang maju dan Negeri Bedagai adalah negeri yang terbuka bagi peradaban dunia," demikian dijelaskan dalam Sumber Intisari Sejarah Kerajaan Negeri Bedagai dalam catatan Tengku Luckman Sinar.

Tepat di samping masjid, bersemayam Sultan Ismail Sulung Laut. Kompleks makam ini menjadi pengingat bagi setiap jemaah yang datang tentang masa keemasan Tanjung Beringin sebagai bandar perdagangan yang ramai. Keunikan pagar masjid yang berbentuk meliuk (mirip sandaran kursi) dan tiang-tiang besi kokoh dari Penang menjadi daya tarik visual yang tak ditemukan di masjid lain di Sumatera Utara.

Suasana Ramadan di sini terasa sangat otentik. Di saat adzan berkumandang dari menara tua, jemaah akan merasakan sensasi beribadah di dalam bangunan yang "diimpor" dari berbagai belahan dunia. Tradisi menjaga keaslian bangunan ini terus dilakukan oleh para ahli waris kesultanan, memastikan bahwa warisan Sultan Ismail tetap bisa dinikmati oleh generasi mendatang.

Artikel Ini Ditulis A. Fahri Perdana Lubis, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads