Jejak Perkebunan Kolonial Membentuk Wajah Kota di Sumatra Timur

Jejak Perkebunan Kolonial Membentuk Wajah Kota di Sumatra Timur

A. Fahri Perdana Lubis - detikSumut
Rabu, 07 Jan 2026 07:29 WIB
Jejak Perkebunan Kolonial Membentuk Wajah Kota di Sumatra Timur
Foto: Arsip perkebunan di Museum Perkebunan Indonesia II (Dok. Ahmad Fahri/detikSumut)
Jakarta -

Sistem perkebunan di Sumatra Timur pada masa kolonial tidak hanya berperan sebagai penggerak ekonomi, tetapi juga membentuk tata ruang kota dan kehidupan sosial masyarakat. Hal tersebut terekam dalam arsip dan panel informasi Museum Perkebunan Indonesia II.

Sejak akhir abad ke-19, kawasan perkebunan dibangun dengan perencanaan infrastruktur yang terintegrasi. Jalan, rel kereta api, jembatan, kanal irigasi, hingga pelabuhan disiapkan untuk mendukung produksi dan distribusi komoditas seperti tembakau, karet, teh, dan kelapa sawit. Dalam panel Sarana dan Infrastruktur Perkebunan disebutkan bahwa infrastruktur tersebut menjadi tulang punggung sistem perkebunan kolonial.

Tak hanya fasilitas produksi, kawasan kebun juga dilengkapi dengan berbagai bangunan penunjang. Di dalam satu wilayah perkebunan terdapat rumah pekerja, rumah mandor, gudang, pabrik pengolahan, serta kantor administrasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di kawasan kebun terdapat rumah pekerja, rumah mandor, gudang, pabrik pengolahan, dan kantor administrasi," sebagaimana tertulis dalam arsip Museum Perkebunan Indonesia II.

Pengaruh perkebunan meluas hingga ke kawasan perkotaan. Pemerintah kolonial membangun berbagai fasilitas publik untuk mendukung aktivitas ekonomi dan administrasi. Arsip museum mencatat, penataan kota dilakukan dengan menghadirkan sekolah, bank, hotel, kantor pos, rumah sakit, dan laboratorium yang kemudian menjadi cikal bakal berkembangnya kota-kota di Sumatra Timur.

ADVERTISEMENT

Dalam kehidupan sosial, pekerja kebun hidup dalam sistem yang terstruktur. Hunian pekerja awalnya berupa barak-barak sederhana, lalu berkembang menjadi kawasan permukiman seiring meningkatnya hasil perkebunan.

"Ketika komoditas perkebunan mulai menghasilkan keuntungan, hunian pekerja berkembang dari barak-barak sederhana menjadi kawasan permukiman," mengutip panel informasi museum.

Selain bekerja, pekerja kebun juga memiliki ruang sosial. Fasilitas olahraga dan kegiatan kebudayaan disediakan di lingkungan perkebunan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, meski tetap berada dalam kontrol sistem perkebunan kolonial.

Melalui arsip dan dokumentasi yang dipamerkan, Museum Perkebunan Indonesia II menunjukkan bahwa warisan perkebunan kolonial tidak hanya berupa bangunan fisik, tetapi juga membentuk struktur sosial, budaya, dan perkembangan kota di Sumatra Timur hingga saat ini.

Artikel ini ditulis A. Fahri Perdana Lubis, peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom.




(afb/afb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads