Mengenal Haji Agus Salim, 'The Grand Old Man' yang Kuasai 9 Bahasa

Mengenal Haji Agus Salim, 'The Grand Old Man' yang Kuasai 9 Bahasa

Aisyah Luthfi - detikSumut
Jumat, 29 Agu 2025 23:40 WIB
Haji - Agus Salim
Foto: Andhyka Akbariansyah
Padang -

Indonesia memiliki banyak tokoh pahlawan yang menjadi pondasi berdirinya bangsa. Salah satu yang paling cemerlang adalah Haji Agus Salim, seorang intelektual, jurnalis, politisi, dan diplomat ulung yang dijuluki "The Grand Old Man". Kecerdasan, prinsip hidup yang kuat, dan kemampuannya dalam berdiplomasi menjadikannya salah satu tokoh paling disegani dalam sejarah perjuangan kemerdekaan.

Jejak perjuangan dan keteladanan Haji Agus Salim terekam jelas sejak masa mudanya hingga akhir hayatnya. Yuk, simak kisah hidup sang pahlawan nasional ini.

Awal Kehidupan dan Kecerdasan yang Luar Biasa

Melansir laman Universitas Dharma Andalas, Haji Agus Salim lahir dengan nama Mashudul Haq yang berarti "pembela kebenaran" di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Ia merupakan putra dari seorang jaksa bernama Sultan Moehammad Salim. Latar belakang ini memberinya akses untuk mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Belanda, yang ditunjang oleh kecerdasannya yang gemilang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bakatnya dalam bahasa sudah terlihat sejak usia muda. Ia berhasil menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing, antara lain Belanda, Inggris, Arab, Turki, Prancis, Jepang, dan Jerman. Puncak prestasi akademisnya adalah saat lulus dari HBS (Hogere Burger School) pada usia 19 tahun dengan predikat lulusan terbaik di tiga kota sekaligus: Surabaya, Semarang, dan Jakarta.

Kisah Beasiswa Kartini dan Prinsip yang Teguh

Dengan prestasi cemerlang, Agus Salim berharap bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi kedokteran di Belanda. Sayangnya, permohonan itu ditolak oleh pemerintah kolonial.

ADVERTISEMENT

Kecerdasannya ternyata menarik perhatian R.A. Kartini. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini merekomendasikan Agus Salim untuk menggantikannya menerima beasiswa sebesar 4.800 gulden. Namun, dengan tegas Agus Salim menolak tawaran tersebut. Ia merasa tersinggung karena beasiswa itu diberikan pemerintah atas usul orang lain, bukan sebagai pengakuan pemerintah atas jerih payah dan kecerdasannya. Baginya, ini adalah bentuk diskriminasi, dan prinsipnya jauh lebih berharga.

Titik Balik di Jeddah dan Awal Pergerakan

Setelah menolak beasiswa, Agus Salim memilih berangkat ke Jeddah, Arab Saudi, untuk bekerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda (1906-1911). Momen ini menjadi titik balik penting dalam hidupnya. Di sana, ia memperdalam ilmu agama Islam langsung dari pamannya, Syech Ahmad Khatib, yang merupakan Imam besar Masjidil Haram.

Sekembalinya ke tanah air, ia membawa bekal ilmu agama yang kokoh serta wawasan barat dan timur yang luas. Ia kemudian terjun ke dunia pergerakan nasional setelah bertemu H.O.S. Tjokroaminoto dan bergabung dengan Sarekat Islam (SI) pada tahun 1915.

Jejak Perjuangan Politik dan Diplomasi

Karier politik Agus Salim melesat di Sarekat Islam. Ia menjadi tokoh sentral bersama H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdul Muis.

  • Peran di Volksraad
    Ia pernah menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) dari tahun 1921-1924. Namun, ia merasa perjuangan "dari dalam" tidak efektif dan memutuskan untuk fokus pada pergerakan di luar parlemen.
  • Menjaga Ideologi SI
    Saat perpecahan terjadi di tubuh SI pada 1923 akibat penyusupan ideologi komunis oleh Semaun, Agus Salim bersama Tjokroaminoto teguh mempertahankan haluan organisasi, yang kemudian melahirkan SI Putih.
  • Bapak Bangsa di BPUPKI dan PPKI
    Menjelang kemerdekaan, ia menjadi anggota Panitia 9 BPUPKI dan PPKI. Perannya sangat vital dalam merumuskan dasar negara, termasuk menghaluskan bahasa dalam penyusunan Batang Tubuh UUD 1945.
  • Diplomat Ulung Pasca-Kemerdekaan
    Jasanya yang paling monumental adalah dalam misi diplomasi. Sebagai Menteri Luar Negeri di beberapa kabinet (Sjahrir, Amir Sjarifuddin, dan Hatta), ia berhasil memimpin misi diplomatik untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan dari negara lain. Puncaknya adalah perjanjian persahabatan dengan Mesir pada tahun 1947, yang menjadi pengakuan de jure pertama bagi kemerdekaan Indonesia.

Julukan "The Grand Old Man" dan Warisannya

Karena kecendekiawanannya, pengalamannya yang luas, serta kefasihannya dalam berdebat dan berdiplomasi, Haji Agus Salim dijuluki "The Grand Old Man" atau Orang Tua Besar. Julukan ini melekat karena kontribusinya yang luar biasa bagi bangsa.

  • Menguasai 9 Bahasa
    Kemampuannya berbahasa asing berkembang hingga fasih dalam sembilan bahasa: Minang, Melayu, Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Turki, dan Jepang.
  • Pahlawan Nasional
    Atas seluruh dedikasinya, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961.
  • Tokoh Pers
    Ia juga dipercaya menjadi Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tahun 1952.

Haji Agus Salim wafat pada 4 November 1954 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Ia meninggalkan warisan keteladanan tentang bagaimana menjadi seorang intelektual yang berprinsip, sederhana, dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk kebenaran dan kemerdekaan bangsanya.




(afb/afb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads