Ini 3 Cerita Menarik Tentang Bukit Katarina Kisaran

Ini 3 Cerita Menarik Tentang Bukit Katarina Kisaran

Perdana Ramadhan - detikSumut
Sabtu, 24 Sep 2022 08:06 WIB
Bukit Katarina Kisaran yang tertutup pohon karet lebat menyimpan banyak cerita di masa lampau. (Perdana Ramadhan / detikSumut).
Bukit Katarina Kisaran yang tertutup pohon karet lebat menyimpan banyak cerita di masa lampau. (Perdana Ramadhan/detikSumut).
Kisaran -

Sebagian besar masyarakat Kabupaten Asahan, Sumatera Utara (Sumut) pasti mengenal bukit Katarina yang berada di Kelurahan Sei Renggas Kecamatan Kisaran Timur. Bukit yang memiliki ketinggian vertikal sekitar 50 meter ini memiliki banyak cerita masa lampau dan menarik bagi sebagian masyarakat sekitar.

Bukit Katarina berada dan masuk dalam bagian areal hak guna usaha perusahaan perkebunan Bakrie Sumatera Plantations yang sudah diwariskan sejak zaman Belanda menjajah bangsa.

Bukit Katarina, juga bersempadan langsung dengan sungai silau yang membelah wilayah Asahan dan muaranya berujung hingga ke Selat Malaka. Bagi sebagian orang khususnya warga Kisaran, ini bukanlah sekedar bukit. Banyak cerita masa lalu tentang bukit ini.


Dirangkum dari berbagai sumber oleh detikSumut, berikut 3 cerita menarik terkait bukit Katarina Kisaran:

1. Katarina Berasal dari Nama Orang Belanda.

Banyak orang yang percaya, bukit Katarina merupakan plesetan nama seorang anak perempuan pejabat perkebunan Belanda yang berkuasa saat itu di wilayah Asahan. Namanya, Catharina Aaders yang hidup pada tahun 1874 - 1894 jauh sebelum bangsa ini merdeka.

Gadis cantik bernama Catharina Aaders ini kemudian meninggal di usia 20 tahun karena sakit. Menurut informasi, keluarga memakamkan Catharina di seputar bukit tersebut. Karenanya banyak warga sekitar yang percaya, bukit ini banyak menyimpan hal-hal mistis.

Pelafalan nama Katarina bagi masyarakat lokal lebih enak diucapkan ketimbang menyebutkan dalam aksen barat. Hal inilah yang mendasari bukit itu sampai sekarang lebih dikenal dengan nama Katarina, agar lebih mudah dalam penyebutannya.

2. Ramai saat Libur Lebaran

Bukit yang diselimuti dengan pohon karet ini seketika menjadi pusat keramaian masyarakat di wilayah Asahan saat libur lebaran tiba. Hal ini berlangsung hingga awal tahun 2000-an. Ribuan orang akan datang dan untuk naik ke atas bukit tersebut yang mendadak menjadi objek wisata masyarakat sekitar saat libur Idul Fitri.

Jangan bayangkan ada wahana permainan di sekitarnya. Sejauh mata memandang, pengunjung yang datang hanya bisa menikmati rindang pohon karet yang sejuk. Pedagang kaki lima dimana-mana dan menjadi sumber potensi rejeki untuk masyarakat sekitar.

3. Tempat Menyelamatkan Diri Warga saat Terjadi Isu Tsunami

Bencana alam luar biasa berupa gempa bumi disusul tsunami yang memporak-porandakan sebagian wilayah Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 memberikan trauma dan dampak ketakutan berlebihan terhadap masyarakat terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah pesisir.

Tiga bulan setelahnya atau tepat pada tanggal 28 Maret 2005 sekitar pukul 23:09 terjadi gempat dasyat berkekuatan 8,3 skala richter yang menguncang wilayah di sekitar pulau Nias. Goyangan gempa terasa hingga ke wilayah Kabupaten Asahan.

Ingatan tsunami Aceh menghantui dan menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di sekitar kota Kisaran saat itu. Setelah beberapa menit gempa, tersiar kabar hoaks dari mulut ke mulut, bahwa wilayah pesisir Asahan yakni Tanjungbalai telah tenggelam. Air laut naik ke daratan akibat tsunami.

Sesaat pasca gempa mengguncang listrik di Kota Kisaran juga padam total. Dalam kondisi gelap gulita ribuan orang warga Kisaran yang termakan hoaks tsunami mencari daratan tinggi sebagai antisipasi penyelamatan diri. Lokasi itu tentu saja bukit Katarina yang mendadak ramai.

Padahal, secara geografis kota Kisaran berjarak lebih dari 50 kilometer dari garis pantai terdekat. Sekitar pukul 01:00 dini hari, ketakutan tsunami sampai ke Kisaran tak terbukti. Menjelang subuh, ribuan orang termakan hoaks ini menundukkan kepalanya dalam-dalam dan bergegas pulang.



Simak Video "Mengintip Gua yang Dijadikan Tempat Tinggal Petani di Majalengka"
[Gambas:Video 20detik]
(bpa/bpa)