Masjid Lama Gang Bengkok, Bukti Medan Kota Multi Etnis

Farid Achyadi Siregar - detikSumut
Senin, 08 Agu 2022 05:10 WIB
Gapura Masjid Lama Gang Bengkok. Farid Achyadi Siregar/detikSumut
Foto: Gapura Masjid Lama Gang Bengkok. Farid Achyadi Siregar/detikSumut
Medan -

Masjid Lama Gang Bengkok merupakan salah satu Masjid yang bersejarah di Kota Medan sekaligus menjadi masjid tertua setelah masjid Al- Osmani.

Masjid ini dibangun pada tahun 1874, dan menjadi salah satu saksi bisu berkembangnya agama Islam di Kota Medan. Corak dan ornamen yang menggambarkan keterwakilan sejumlah kehidupan budaya di Medan menjadi daya tarik dari Masjid ini.

Corak dan ornamen yang ada dalam masjid inilah bukti bahwa Kota Medan sejak ratusan tahun silam sudah merupakan kota multi etnis.


Memiliki nama yang unik karena berada di sebuah jalan yang menikung. Masjid ini terletak di jalan Mesjid No.62 Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan.

Awalnya, masjid ini merupakan sebuah surau atau langgar dengan bangunan sederhana yang berada di depan sebuah Gang kecil. Kemudian pada tahun 1887 surau tersebut dibangun menjadi sebuah masjid oleh saudagar kaya dermawan berkebangsaan Cina, Tjong A Fie.

Hal itulah yang menggambarkan dan sekaligus menjelaskan bahwa Kota Medan merupakan kota yang multi etnis dan tingginya kerukunan beragama yang tercipta.

Dalam membangun masjid tersebut, Tjong A Fie bekerjasama dengan tokoh masyarakat sekitar yang terkenal dengan sebutan Datuk Kesawan yang memberikan wakaf atas tanah tersebut.

Masyarakat sekitar yang bermukim di sekitar masjid menganggap Masjid Lama Gang Bengkok adalah saksi dari toleransi antar ernis dan umat beragama di Kota Medan. Setelah pembangunan selesai, masjid tersebut diserahkan ke Sultan IX Deli, Makmun Al Rasyid Alamsyah Perkasa.

Masjid yang sudah mencapai usia 135 tahun ini terlihat masih berdiri kokoh dengan warna kuning cerah yang membaluti disetiap ornamennya. Saat ini masjid tersebut dikelola Muchlis generasi keempat dari Syekh Muhammad Yaqub seorang penasehat Sultan Makmun.

"Masjid ini unik, karena atapnya tidak berbentuk terlihat seperti kubah, melainkan lebih mirip seperti khas China yang seperti kelenteng."Kata Muchlis, Jumat (5/8/2022).

Tiang Masjid berbalut warna kuning.Tiang Masjid berbalut warna kuning. Foto: Farid Achyadi Siregar/detiSumut

Muchlis mengatakan bangunan masjid ini sebenarnya sudah banyak yang dilakukan renovasi, namun arsitektur dan ciri khas dari masjid ini tidak akan dirubah sedikitpun.

"Kalau dirubah arsitektur tidak ada, namun ada beberapa material yang dilakukan oleh renovasi beberapa kali. Sudah berumur ratusan tahun soalnya."ucapnya.

Hal itu dibenarkan saat memasuki bagian depan masjid kita akan langsung melihat atap yang bukan seperti kubah, melainkan membentuk seperti kelenteng China.

Setelah memasuki bagian dalam kita akan melihat arsitektur melayu yang kental dengan perpaduan warna kuning keemasan membalut tiang-tiang masjid.

Walau sudah memasuki usia 135 tahun masjid ini masih tetap menjadi favorit wisatawan lokal dan asing untuk berkunjung dan beribadah. Bahkan masjid ini masih aktif melakukan beberapa kegiatan.

"Yang berkunjung kemari ada jemaah dari lokal juga asing. Kalau asing kemungkinan melihat dari internet mereka, saat bulan ramadhan juga aktif memberikan buka puasa bersama dan pengajian," ujarnya.

Lelaki ini mengatakan, ia sangat berharap kepada setiap jemaah agar selalu meramaikan masjid ini agar terus berdiri kokoh untuk seterusnya. Dan setiap pengelola agar tetap memakmurkan masjid bersejarah tersebut.



Simak Video "Jokowi Resmikan 7 Pelabuhan & Empat KMP di Kawasan Danau Toba"
[Gambas:Video 20detik]
(bpa/bpa)