Perbedaan QRIS Statis vs QRIS Dinamis Menurut BI, Ini Penjelasannya

Perbedaan QRIS Statis vs QRIS Dinamis Menurut BI, Ini Penjelasannya

Muhammad Fikri Haikal Saragih - detikSumut
Selasa, 20 Okt 2026 03:00 WIB
Ilustrasi QRIS
Ilustrasi QRIS (Foto: dok. Ilustrasi QRIS)
Medan -

Ketika belanja ke toko atau beli makanan di warung, detikers pasti sering bayarnya lewat QRIS? Tapi, pernah perhatikan nggak ada kode QRIS yang mengharuskan pembeli memasukkan nominal sendiri, sementara kode lainnya langsung menampilkan jumlah yang harus dibayar?

Ternyata, perbedaan itu bukan sekadar soal tampilan kode QR loh. Cara pedagang menyiapkan kode pembayaran juga berbeda, bergantung pada jenis QRIS yang digunakan.

Melansir dari Bank Indonesia (BI), perbedaan itu disebut dengan QRIS statis dan dinamis. Bagi sebagian orang mungkin belum begitu akrab dengan istilah ini, tetapi BI telah memberikan penjelasannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat menggunakan QRIS statis, pembeli biasanya perlu mengetik nominal transaksi secara manual setelah memindai kode. Sementara itu, nominal pembayaran sudah dimasukkan oleh pedagang sehingga pembeli tinggal scan kode yang ditampilkan pada QRIS dinamis.

Keduanya sama-sama digunakan untuk menerima pembayaran digital, tetapi memiliki cara kerja yang berbeda. Lantas, apa saja perbedaan QRIS statis dan dinamis, serta mana yang lebih praktis untuk transaksi sehari-hari?

ADVERTISEMENT

Perbedaan QRIS Statis dan Dinamis

Dikutip dari BI, Quick Response Code Indonesian Standard atau dikenal QRIS merupakan standar kode QR pembayaran yang ditetapkan Bank Indonesia. Dalam metode Merchant Presented Mode (MPM), terdapat dua jenis kode QR, yakni statis dan dinamis.

QRIS statis menggunakan satu kode QR yang dapat dipajang dalam bentuk stiker atau cetakan. Setelah memindai kode tersebut, pembeli perlu memasukkan nominal pembayaran secara manual sebelum menyelesaikan transaksi.

Sementara itu, QRIS dinamis dibuat melalui perangkat elektronik, seperti ponsel atau mesin EDC, setelah pedagang memasukkan nominal transaksi. Pembeli kemudian memindai kode QR yang ditampilkan, sehingga tidak perlu mengetik nominal pembayaran sendiri.

Perbedaan tersebut membuat kedua jenis QRIS memiliki cara penggunaan yang berbeda. QRIS statis dapat ditemukan pada pedagang yang memajang kode QR tetap, sedangkan QRIS dinamis digunakan ketika kode pembayaran ditampilkan sesuai nominal transaksi.

Mana yang Lebih Praktis?

Menurut BI, QRIS statis cocok digunakan oleh usaha mikro dan kecil karena penerapannya sederhana. Pedagang cukup menampilkan satu kode QR, sementara pembeli memasukkan nominal sesuai jumlah belanja.

Adapun QRIS dinamis lebih cocok untuk usaha menengah, besar, atau pedagang dengan volume transaksi tinggi. Nominal yang dimasukkan lebih dahulu oleh pedagang membantu mengurangi kebutuhan pembeli untuk mengetik jumlah pembayaran secara manual.

Meski berbeda dalam cara penggunaannya, kedua jenis tersebut sama-sama menggunakan standar QRIS. Pedagang dapat menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan usaha dan alur transaksi, sedangkan pembeli perlu memastikan nominal pembayaran sudah sesuai sebelum menekan tombol bayar.

Keduanya sama-sama praktis, hanya saja tergantung penerapan dan skala usaha pedagang yang menggunakan QRIS-nya. Nah, gimana? Sekarang detikers udah tahu perbedaan QRIS statis dan dinamis, kan?

Artikel ini ditulis Muhammad Fikri Haikal Saragih, peserta Maganghub Kemnaker di detikcom.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads