Menjadi sarjana pendidikan tak selalu membuat seseorang memilih menjadi guru. Siti Aisyah, salah satunya, alumni UINSU ini justru memilih merintis usaha budidaya jamur sejak masih kuliah. Berawal dari lahan berukuran 4x3 meter dan modal sekitar Rp 5 juta, usahanya kini berkembang hingga memiliki lebih dari 100 mitra di Sumatera Utara.
Usaha itu dirintis Aisyah bersama suaminya saat pandemi COVID-19. Kala itu, Aisyah masih menjalani perkuliahan dan memasuki semester 6 sekaligus mengerjakan skripsi. Di tengah kesibukannya, ia juga menjadi tentor mata pelajaran matematika.
Ketertarikannya pada jamur bermula dari aktivitasnya di Pramuka. Aisyah bergabung dalam Sakatana Bumi di Kwartir Cabang Medan yang memberikan pembelajaran dan kegiatan di bidang pertanian, peternakan, perikanan hingga hortikultura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari kegiatan tersebut, Aisyah mengenal budidaya jamur dan melihat peluang usaha di dalamnya. Menurutnya, jamur relatif mudah dirawat, tidak membutuhkan lahan luas, dapat dipanen setiap hari, serta memiliki pasar.
"Saya melihat jamur ini perawatannya mudah, hanya disiram, setiap hari bisa panen, peminatnya juga banyak dan tidak membutuhkan lahan yang luas," kata Aisyah, pemilik Mushiro Jamur, Jumat (9/10/2026).
Dengan modal awal sekitar Rp 5 juta, Aisyah dan suaminya mulai membuat rak serta memenuhi kebutuhan budidaya jamur. Saat itu, usahanya masih menggunakan lahan berukuran 4x3 meter dan diberi nama Sentral Jamur Medan.
Aisyah mengaku, memulai usaha belum memiliki dasar bisnis maupun kemampuan digital marketing. Namun, ia kemudian aktif mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan UMKM. Dari berbagai pengalaman dan pembelajaran itu, usahanya perlahan berkembang dan kemudian melakukan rebranding menjadi Mushiro Jamur.
Perkembangan itu terlihat dari skala usaha yang terus bertambah. Jika pada awalnya hanya memiliki tiga orang pekerja, kini Mushiro Jamur telah mempekerjakan sekitar 17 orang. Area yang digunakan untuk usaha juga berkembang dari tempat baglog berukuran sekitar 4x20 meter menjadi sekitar 1 hektare.
Tak hanya mengembangkan produksi sendiri, Mushiro Jamur juga membuka kemitraan budidaya sejak awal berdiri. Aisyah menyebut saat ini sudah ada lebih dari 100 mitra yang tersebar di berbagai wilayah Sumatera Utara.
"Sekarang kita sudah memiliki lebih dari 100 mitra yang tersebar luas di wilayah sumatera Utara", ujarnya.
Sistem kemitraan yang diterapkan, kata Aisyah, tidak hanya berupa penjualan bibit. Mitra mendapatkan pendampingan sejak mengelola rumah jamur hingga masa panen. Hasil panen dari mitra kemudian dijemput dan dibeli kembali oleh pihak Mushiro Jamur.
Saat ini, Mushiro Jamur membudidayakan tiga jenis jamur, jamur tiram putih, jamur tiram cokelat dan jamur kuping. Dari ketiganya, jamur tiram putih menjadi jenis yang paling banyak dan rutin diproduksi.
Dalam sebulan, Mushiro Jamur dapat memproduksi sekitar 20 ribu hingga 50 ribu bibit. Jamur yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk segar, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari jamur crispy, frozen food hingga bahan baku makanan.
Bagi Aisyah, perkembangan usaha itu bukan hanya soal memperbesar bisnis. Ia ingin usaha yang dibangunnya bersama suami dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat tanpa membatasi usia, selama memiliki kemauan untuk bekerja.
Perjalanan Aisyah membangun Mushiro Jamur juga membawanya meraih sejumlah penghargaan dan program pengembangan kewirausahaan. Ia pernah meraih penghargaan Pemuda Pelopor dan Wirausaha Unggulan Bank Indonesia. Pada 2025, Aisyah juga terpilih sebagai Duta Pertanian Indonesia dan disebut menjadi satu-satunya perwakilan dari Kota Medan.
Artikel ini ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
