SPBUN Jadi Harapan Baru Nelayan di Aceh Selatan

Aceh

SPBUN Jadi Harapan Baru Nelayan di Aceh Selatan

Finta Rahy - detikSumut
Selasa, 28 Apr 2026 20:29 WIB
Harmaini dan nelayan lainnya saat mengisi solar bersubsidi di SPBUN yang baru diresmikan.
Foto: Harmaini dan nelayan lainnya saat mengisi solar bersubsidi di SPBUN yang baru diresmikan. (Foto: Finta Rahyuni/detikSumut)
Aceh Selatan -

Seorang nelayan bernama Harmaini tersenyum bahagia menyaksikan berdirinya SPBU Nelayan (SPBUN) di Ujung Pulo Rayeuk, Kecamatan Bakongan Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Rasa lelah yang setiap hari dirasakannya untuk mencari solar bersubsidi, kini akan berkurang.

Biasanya, pria berusia 50 tahun itu harus menempuh jarak sekitar 40 km dari desanya di Teupin Tinggi, Kecamatan Trumon menuju Kecamatan Bakongan, untuk mendapatkan solar. Rasa lelah itu harus ditahannya demi untuk mendapatkan solar. Jika tak ada, Harmaini tak akan bisa melaut.

"Sebelumnya ambil di SPBUN di Bakongan, dari Trumon ke Bakongan ini ada sekitar 40 km," kata Harmaini saat diwawancarai, Selasa (28/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini, Harmaini bisa bernapas lega. Pasalnya, jarak puluhan kilometer yang ditempuhnya untuk mencari solar akan berkurang dengan kehadiran SPBU Nelayan di Ujung Pulo Rayeuk itu. SPBU itu baru saja diresmikan oleh Menteri Koperasi Ferry Juliantono.

Harmaini mengatakaan kehadiran SPBU ini menjadi harapan baru bagi nelayan di Aceh Selatan. Dengan adanya SPBUN ini, pria yang memiliki tiga orang anak itu bisa memangkas jarak tempuhnya sepanjang 10 km. Pasalnya, lokasi SPBUN di Bakongan Timur itu lebih dekat dari tempat tinggalnya, jika dibandingkan dengan ke Bakongan.

ADVERTISEMENT

Selain menghemat waktu tempuh, pria yang sudah sejak kecil ikut melaut itu juga bisa memangkas biaya operasionalnya.

"Dengan adanya SPBU ini, jadi berkuranglah 10 km lagi. Jadi kan sangat membantu kami nelayan-nelayan di sini semua, karena dengan harga transportasi mengurang dan juga terbantulah untuk masyarakat kami yang ada di pedalaman sini semua," jelasnya.

Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Laksamana TNI (Purn) Didit Herdiawan mengatakan pembangunan SPBUN itu merupakan kerja sama berbagai pihak, di antaranya Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama dengan Kementerian Koperasi dan Pertamina. Dia menyebut pembangunan SPBUN itu menjadi salah satu bagian dari program prioritas Presiden RI, Kampung Nelayan Merah Putih.

"Kebetulan di sini saya melakukan kegiatan yang tentunya ada kaitannya dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, di mana ada program prioritas Bapak Presiden, yaitu membangun Kampung Nelayan Merah Putih. Di dalamnya, salah satu di antaranya yang nanti akan ada SPBUN ini," kata Didit.

"Supaya tidak melakukan kegiatan yang double, maka kita bekerjasama, sehingga pada saat pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, itu ditambahkan dengan SPBUN. Dengan kondisi seperti ini, berjalan beriring semuanya," sambungnya.

Bupati Aceh Selatan Mirwan menyambut baik kehadiran SPBUN itu. Mirwan menyampaikan bahwa kebanyakan wilayah Aceh Selatan merupakan daerah pesisisr yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Ada sekitar 7.000 masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan

"Kabupaten Aceh Selatan memiliki karakteristik geografis yang luar biasa. Dari 18 kecamatan, sebanyak 13 kecamatan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, dengan total 71 desa pesisir. Potensi ini bukan sekadar angka, melainkan urat nadi kehidupan bagi lebih dari 7.000 nelayan kami, yang mengoperasikan 2.454 unit armada penangkapan ikan," jelasnya.

Dia menyampaikan bahwa berdasarkan data tahun 2025, produksi ikan di daerah tersebut mencapai 32 ribu ton per tahun. Nilainya ekonomisnya diperkirakan mencapai Rp 968 miliar per tahun.

"Angka ini menempatkan Aceh Selatan sebagai salah satu produsen terbesar perikanan tangkap di wilayah Pantai Barat Selatan Provinsi Aceh. Namun, kami menyadari bahwa potensi besar ini belum tergali optimal karena keterbatasan sarana penangkapan dan prasarana pelabuhan yang kami miliki. Kehadiran (SPBUN) ini tentunya akan menjadi momentum penting bagi peningkatan ekonomi masyarakat Aceh Selatan," jelasnya.

Selain pada sektor perikanan, Mirwan mengatakan pihaknya juga fokus mendorong produklsi pada sektor pertanian dan yang lainnya. Dia juga berharap agar pembangunan SPBUN di Aceh Selatan terus ditingkatkan.

"Begitu juga dengan luas lahan sawah padi sebesar 4.600 hektare juga akan kami dorong terus untuk mengoptimalkan produksi beras. Tentunya, jika kita lihat kembali dengan garis pantai sepanjang 130 km ini, kita masih dapat mendorong SPBU nelayan serupa hadir lebih banyak lagi, sehingga akses BBM solar subsidi akan semakin mudah didapatkan oleh masyarakat nelayan," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Koperasi Ferry Juliantono meresmikan SPBU Nelayan di Gampong Ujung Pulo Rayeuk, Kecamatan Bakongan Timur. Ferry berharap kehadiran SPBUN ini dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan.

"Ini dalam rangka untuk bisa meningkatkan kesejahteraan nelayan yang tinggal di pesisir pantai di seluruh Indonesia," kata Ferry saat peresmian SPBU Nelayan.

Ferry mengatakan bahwa SPBU ini merupakan SPBU Nelayan yang ke-9 yang dikelola oleh Koperasi Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI). Kapasitas di SPBUN itu sekitar 8.000 liter solar bersubsidi.

Ferry menyampaikan bahwa pembangunan SPBUN itu juga selaras dengan visi misi Presiden Prabowo Subianto dalam membantu perekonomian masyarakat. Dia berharap fasilitas yang tersedia ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menyebut bahwa di Indonesia saat ini ada sekitar 416 SPBUN. Di Provinsi Aceh sendiri ada 14 SPBU Nelayan. Dari total tersebut, 6 di antaranya berada di Aceh Selatan, selaku wilayah pesisir.

"Kami berharap SPBUN ini menjadi bagian dari pergerakan ekonomi di daerah. Tentu saja nanti akan banyak fasilitas atau bentuk usaha lain yang bisa dikembangkan oleh koperasi," kata Eko saat memberikan sambutan.

Eko menyebut pembangunan SPBUN ini merupakan kolaborasi berbagai pihak. Eko menegaskan bahwa Pertamina berkomitmen dalam mendistribusikan energi ke seluruh wilayah Indonesia, termasuk ke pelosok.




(fnr/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads