Tambah Banyak, Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 7.488 T

Tambah Banyak, Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 7.488 T

Anisa Indraini - detikSumut
Rabu, 15 Apr 2026 23:20 WIB
Ilustrasi uang
Foto: Getty Images/iStockphoto/Fototocam
Jakarta -

Utang luar negeri Indonesia mencapai US$ 437,9 miliar atau setara Rp 7.488 triliun (kurs Rp 17.100) hingga Februari 2026. Jumlah tersebut naik dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang senilai US$ 434,9 miliar.

"Secara tahunan ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh 2,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,7% (yoy)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dikutip detikFinance Rabu (15/4/2026).

Denny menyebut kenaikan posisi ULN pada Februari 2026 terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter yakni Sekuritas Rupiah BI (SRBI). Sementara itu, ULN swasta mengalami penurunan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari ULN publik, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 215,9 miliar atau tumbuh 5,5% (yoy). Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib (20,3%); Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,6%); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5%).

"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah. Sementara peningkatan ULN BI didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh BI sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global," jelas Denny.

Sementara itu, posisi ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 193,7 miliar atau turun 0,7% (yoy). Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing turun 2,8% (yoy) dan 0,2% (yoy).

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3% terhadap total ULN swasta.

"ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0% terhadap total ULN swasta," beber Denny.




(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads