Kuba Dilarang Amerika Serikat Terima Minyak dari Rusia, Ini Alasannya

Kuba Dilarang Amerika Serikat Terima Minyak dari Rusia, Ini Alasannya

Shafira Cendra Arini - detikSumut
Senin, 23 Mar 2026 12:40 WIB
Kapal patroli Bakamla RI, KN Pulau Marore 322, menangkap kapal supertanker MT Arman 114 berbendera Iran, yang bermuatan minyak mentah atau light crude oil (LCO) sebanyak 272.569 metrik ton atau senilai Rp 4,6 triliun. Kapal tersebut kedapatan melakuk
Ilustrasi (Foto: Dok. Humas Bakamla RI)
Jakarta -

Kuba dilarang oleh Kementerian Amerika Serikat (AS) menerima minyak mentah dari Rusia. Padahal saat ini Kuba sedang dalam kondisi kekurangan bahan bakar.

Dikutip detikFinance dari CNBC, di dokumen yang diterbitkan Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Kementerian Keuangan AS, Kuba masuk daftar negara yang akan diblokir dari transaksi yang melibatkan penjualan, pengiriman, atau bongkar muat minyak mentah atau produk minyak dari Rusia.

Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah Intelijen maritim AS melacak dua kapal tanker Rusia mengangkut minyak dan gas menuju Kuba

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya, AS telah mengizinkan sementara pembelian minyak Rusia di tengah laut, sebagai bagian dari upaya untuk menstabilkan pasar energi selama perang AS dan Israel melawan Iran.

Sementara Rusia, yang telah bersekutu dengan Kuba selama beberapa dekade, mengkritik keras blokade bahan bakar oleh pemerintahan Presiden Donal Trump. Rusia berjanji memberikan Kuba dukungan yang diperlukan, termasuk bantuan keuangan.

ADVERTISEMENT

Wakil Menteri Luar Negeri Kuba Carlos Fernandez de Cossio menegaskan dalam konferensi pers pada Jumat (20/3/) di Havana Kuba tidak dapat dinegosiasikan.

"Sistem politik Kuba tidak dapat dinegosiasikan, dan tentu saja baik presiden maupun posisi pejabat mana pun di Kuba tidak dapat dinegosiasikan dengan Amerika Serikat," dikutip dari CNBC yang melansir laporan Reuters.

Kapal tanker berbendera Rusia, Anatoly Kolodkin yang dikenai sanksi, juga diduga sedang menuju Kuba membawa 730.000 barel minyak mentah, kata perusahaan analisis maritim Kpler pada Rabu, menurut AFP.

Pemerintahan Trump menyebut pemerintah Kuba sebagai "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa" dan mengisyaratkan bahwa AS dapat mengarahkan perhatiannya ke Kuba setelah perang Iran.

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengecam ancaman tersebut dan berjanji menghadapi langkah pemerintahan Trump memutus pasokan bahan bakar, dengan perlawanan yang tak kenal lelah.




(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads