Aceh

Bea Cukai Dorong Pemerintah Aceh Bikin Pabrik Olahan Sawit Sendiri

Agus Setyadi - detikSumut
Kamis, 11 Agu 2022 14:56 WIB
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Harga jual Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit tingkat petani sejak dua pekan terakhir mengalami penurunan dari Rp2.850 per kilogram menjadi Rp1.800 sampai Rp1.550 per kilogram, penurunan tersebut pascakebijakan pemeritah terkait larangan ekspor minyak mentah atau crude palm oil (CPO). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.
Ilustrasi Tandan Buah Segar (TBS) ( ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)
Banda Aceh -

Kantor Wilayah (Kanwil) Bea Cukai Aceh mendorong Pemerintah Aceh untuk membangun pabrik pengolahan minyak mentah kepala sawit menjadi berbagai jenis produk. Pabrik pemurnian (refinery) diperlukan agar Aceh tidak terlalu bergantung ke daerah lain.

"Hampir semua provinsi yang punya pabrik kelapa sawit (PKS) itu punya pabrik refinery. Aceh saja nggak ada, jadi kalau refinery-nya ada di Aceh, Insya Allah akan ada kemudahan sehingga kita tidak juga harus membebani Sumatera Utara," kata Kepala Kanwil Bea Cukai Aceh Safuadi kepada wartawan, Kamis (11/8/2022).

Safuadi mengaku sudah bertemu dengan Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki untuk membahas masalah replanting sawit dan terkait pabrik refinery. Menurutnya bila ada pabrik refinery, turunan hasil alam Aceh dapat diolah sendiri sehingga pengusaha tidak lagi mengirim bahan baku saja ke luar daerah.


Pembangunan pabrik refinery disebut tidak perlu menggunakan anggaran pemerintah daerah. Menurut Safuadi, gubernur dapat mengajak atau mengimbau pengusaha sawit yang sudah membentuk konsorsium untuk sama-sama membangun pabrik tersebut.

"Jadi seluruh PKS yang ada di Aceh melakukan konsorsium agar bisa terbangun pabrik refinery di Aceh yang akan membuat Aceh bisa memproduksi minyak goreng sendiri, bisa menghasilkan kebutuhan bahan-bahan turunan dari," jelas Safuadi.

Pj Gubernur Marzuki disebut sangat antusias dengan saran dari Bea Cukai. Marzuki meminta forum sembilan untuk mengawal rencana tersebut.

"Artinya keseriusan beliau untuk segera mengupayakan ada hal-hal baru yang bisa melakukan perubahan-perubahan termasuk ini," ujarnya.

Safuadi menjelaskan, pihaknya mendorong pemerintah bekerjasama dengan pengusaha untuk membuat produk-produk turunan supaya harganya dapat lebih murah. Hal itu disebabkan karena biaya logistiknya lebih rendah.

"Jadi kita dorong supaya pemerintah daerah bisa membangun kerjasama atau mendorong pengusaha-pengusaha yang melakukan aktivitas industri di Aceh untuk membangun kebutuhan masyarakat Aceh," jelas Safuadi.

"Minimal kita kan bisa mandiri untuk produk-produk ya jangan sampai tisu pun kita nggak punya. Jadi ini yang kita dorong. Jadi ada upaya-upaya kita bisa melakukan dorongan agar kita bisa melakukan sendiri sesuatu yang menjadi kebutuhan kitalah," terang Safuadi.



Simak Video "Gempa M 5,2 Guncang Banda Aceh, Tak Berpotensi Tsunami"
[Gambas:Video 20detik]
(agse/astj)