Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Ulumul Qur'an, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat. Dalam kesempatan itu, Sugiat mengajak para santri dan masyarakat untuk menjadikan perjuangan serta akhlak Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Sugiat mengatakan, peringatan Maulid Nabi tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut, menurutnya, harus menjadi pengingat untuk kembali melihat bagaimana Rasulullah SAW menjalani perjuangan dakwah dengan penuh kesabaran, keteguhan, dan kasih sayang.
"Perjuangan Rasulullah mengajarkan kita untuk tetap istiqamah di jalan kebenaran, meskipun menghadapi berbagai tantangan, termasuk ejekan dan penghinaan," kata Sugiat, Sabtu (19/9/2026).
Dia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW tetap teguh menyampaikan risalah Islam meski menghadapi penolakan dari masyarakat. Salah satunya ketika Rasulullah berdakwah ke Thaif.
Dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad mendapat penolakan keras, bahkan Rasulullah SAW mengalami pengusiran dan dilempari batu hingga terluka. Namun, ketika mendapat kesempatan untuk membalas perlakuan tersebut, Rasulullah justru tidak memilih dendam.
"Ini yang perlu kita teladani. Ketika mendapatkan hinaan atau perlakuan yang tidak baik, jangan kemudian membuat kita meninggalkan kebenaran. Rasulullah tetap sabar, tetap istiqamah dan tidak membalas keburukan dengan keburukan," ujar anggota DPR dari Fraksi Gerindra ini.
Menurut Sugiat, keteladanan Rasulullah juga terlihat dari akhlaknya dalam berinteraksi dengan orang lain. Rasulullah dikenal sebagai sosok yang santun, penyayang dan mampu mengendalikan diri ketika menghadapi persoalan.
Nilai tersebut, kata dia, sangat relevan diterapkan dalam kehidupan saat ini. Terlebih di tengah masyarakat yang menghadapi beragam perbedaan dan tantangan.
"Kalau kita mengaku mencintai Rasulullah, maka kecintaan itu harus terlihat dalam akhlak kita. Bagaimana kita berbicara, bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menghadapi perbedaan dan bagaimana kita menyikapi ketika mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan," jelasnya.
Sugiat menegaskan, esensi peringatan Maulid Nabi adalah menghadirkan perubahan dalam diri. Peringatan tersebut akan kehilangan makna apabila hanya dilakukan melalui acara dan perayaan, tetapi tidak diikuti dengan perbaikan perilaku.
"Maulid akan menjadi lebih kuat dan bermakna apabila menghasilkan perubahan akhlak. Setelah memperingati Maulid, kita harus menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih santun, lebih peduli kepada sesama dan lebih istiqamah dalam menjalankan kebaikan," katanya.
Simak Video "Video: 61 Perahu Hias Tradisional Rayakan Maulid di Maros"
(afb/mjy)