Sebanyak 2.325 orang tewas akibat wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo. Angka kematian itu melampaui rekor sebelumnya pada 2018-2020 yakni 2.299 orang, menurut data pemerintah pada Senin (17/08).
Dilansir detikNews, angka kematian tersebut berasal dari 4.945 kasus terkonfirmasi.
Ebola menular melalui cairan tubuh orang yang terinfeksi. Hal tersebut dapat menyebabkan demam, muntah, diare, dan jika parah, pendarahan internal serta eksternal.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut wabah ini "berkembang paling cepat dalam catatan sejarah". Setiap setengah jam satu orang tewas akibat Ebola di Kongo.
Kondisi itu menjadikan wabah tersebut kini menjadi kedua paling mematikan setelah wabah di Afrika Barat pada 2014-2016. Kala itu, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tercatat ada 28.616 kasus dan 11.310 kematian di Ginea, Liberia, dan Siera Leoni.
Baca juga: Status Risiko Ebola di Kongo Dinaikkan WHO |
Tingkat Kematian Tinggi
Menurut data pemerintah, tingkat kematian kasus naik dari sekitar 20% pada awal Juni dan kini menjadi 46%. Angka ini merupakan proporsi kematian dari mereka yang telah dikonfirmasi terinfeksi.
Artinya, hampir satu dari setiap dua kasus terkonfirmasi berakhir dengan kematian.
Para ahli mengatakan, kenaikan ini bukan berarti virus menjadi lebih mematikan. Sebaliknya, angka tersebut mencerminkan kelemahan dalam pemantauan, deteksi, dan akses terhadap layanan kesehatan.
Dalam 50 tahun terakhir, penyakit ini telah menewaskan lebih dari 15.000 orang di Afrika.
Baca selengkapnya di sini
Simak Video "Video: Meksiko Perketat Pengawasan Ebola Jelang Piala Dunia 2026"
(mjy/mjy)