7 Hal yang Tanpa Disadari Dapat Merusak Ginjal, Yuk Kenali!

7 Hal yang Tanpa Disadari Dapat Merusak Ginjal, Yuk Kenali!

Sarah Oktaviani Alam - detikSumut
Jumat, 17 Jul 2026 09:01 WIB
Chronic kidney disease, Asian woman with model for treatment urinary system, urology, Estimated glomerular filtration rate eGFR.
ilustrasi ginjal. (Foto: Getty Images/sasirin pamai).
Jakarta -

Selama ini, diabetes dan tekanan darah tinggi kerap dianggap sebagai penyebab utama kerusakan ginjal. Padahal, kedua penyakit tersebut bukan satu-satunya faktor yang dapat menurunkan fungsi ginjal.

Ada berbagai faktor risiko lain dari lingkungan, gaya hidup, hingga genetika yang diam-diam dapat 'menggerogoti' organ penyaring darah ini tanpa disadari. Penyakit ginjal kronis diperkirakan mempengaruhi hampir 10 persen populasi global.

Sifatnya yang berkembang perlahan tanpa rasa sakit bikin penyakit ini sering dijuluki ancaman yang sunyi. Bahkan, data penelitian menunjukkan hampir satu dari empat orang dewasa kemungkinan punya tingkat gangguan fungsi ginjal tertentu tanpa mereka ketahui.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir detikHealth dari Times of India, berikut sejumlah pemicu sakit ginjal lainnya yang jarang disadari:

ADVERTISEMENT

7 Hal yang Tanpa Disadari Dapat Merusak Ginjal

1. Kebiasaan Merokok

Merokok tak hanya merusak paru-paru dan jantung, namun juga bertindak sebagai akselerator kerusakan ginjal yang senyap. Kandungan nikotin dalam rokok bisa mengurangi aliran darah ke jaringan ginjal.

Selain itu, racun dalam asap rokok memicu peradangan dan pembentukan jaringan parut. Pada orang yang sudah punya masalah ginjal, merokok bakal mempercepat penurunan fungsi organ itu secara drastis.

2. Konsumsi Obat Pereda Nyeri yang Dijual Bebas

Pemakaian obat pereda nyeri yang dijual bebas (OTC), terutama jenis NSAID (obat antiinflamasi nonsteroid) secara sering untuk mengatasi sakit kepala atau nyeri sendi bisa merusak ginjal secara permanen. Kerusakan tersebut terjadi bertahap dan sering tak disadari.

Selain itu, masyarakat juga harus waspada terhadap label 'alami' pada obat tradisional atau jamu yang tidak teregulasi. Sebab, beberapa di antaranya dilaporkan menyembunyikan kandungan berbahaya seperti kontaminasi logam berat.

3. Obesitas

Obesitas tak hanya meningkatkan risiko diabetes, tetapi juga dapat berdampak langsung pada kesehatan ginjal. Ketika berat badan seseorang berlebih, ginjal dipaksa bekerja ekstra keras untuk menyaring darah.

Fenomena ini disebut sebagai hiperfiltrasi. Seiring berjalannya waktu, kerja lembur yang ekstrem ini memicu munculnya jaringan parut pada jaringan ginjal, yang pada akhirnya menurunkan kemampuan penyaringan organ tersebut.

4. Suplemen Kebugaran dan Pembakar Lemak

Budaya kebugaran modern sering kali menormalisasi pemakaian suplemen tanpa resep, seperti suplemen tinggi protein, kreatin, hingga senyawa pembakar lemak untuk binaraga atau penurunan berat badan.

Bila dikonsumsi berlebihan dan tanpa pengawasan medis, produk-produk ini bisa memberikan tekanan besar pada ginjal, terutama bagi mereka yang punya masalah ginjal tersembunyi.

5. Infeksi Saluran Kemih Berulang dan Batu Ginjal

Jangan sepelekan infeksi saluran kemih (ISK) yang kerap kambuh. Bakteri dari infeksi tersebut bisa menyebar naik ke atas hingga memicu jaringan parut pada ginjal.

Selain ISK, masalah batu ginjal yang tak diobati juga bisa menyebabkan penyumbatan dan peradangan berulang yang berisiko merusak jaringan ginjal secara permanen.

6. Faktor Riwayat Keluarga

Riwayat kesehatan keluarga atau genetik memegang peran sentral dalam mendeteksi risiko penyakit ginjal. Penyakit genetik tercatat berkontribusi sekitar 20 hingga 25 persen pada kasus penyakit ginjal kronis.

Kondisi genetik ini kerap kali muncul dalam bentuk tekanan darah tinggi di usia dini yang sifatnya sulit diobati.

7. Penyakit Autoimun

Gangguan autoimun sistemik, seperti Lupus Eritematosus Sistemik (SLE), diketahui bisa menyerang filter atau penyaring di dalam ginjal secara langsung.

Serangan sistem imun yang keliru ini menyebabkan peradangan hebat pada organ ginjal dan memicu kerusakan kronis jangka panjang jika tidak segera ditangani.



(dhm/dhm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads