Solar Langka di Jalinsum, Perjalanan Bus Medan-Jakarta Jadi 4 Hari Lebih

Solar Langka di Jalinsum, Perjalanan Bus Medan-Jakarta Jadi 4 Hari Lebih

Juita Sinuhaji - detikSumut
Senin, 13 Jul 2026 10:41 WIB
Terminal bus ALS di Medan. (Juita SInuhaji/detikSumut)
Foto: Terminal bus ALS di Medan. (Juita SInuhaji/detikSumut)
Medan -

Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar di sejumlah SPBU di wilayah jalan lintas Sumatera (Jalinsum) dilaporkan langka. Kondisi ini, membuat perjalanan penumpang menggunakan bus dari Kota Medan menuju Jakarta membutuhkan waktu yang lebih lama menjadi 4 hari 4 malam atau lebih.

Hal tersebut diungkapkan oleh Humas PT ALS, Alwi Matondang, ia mengatakan kelangkaan solar bukan hanya di Kota Medan tetapi hampir seluruh wilayah Sumatera. Ia juga mengatakan, para supir rela antre berjam-jam untuk mendapat bahan bakar. Bus bisa mengantre paling cepat 4 jam bahkan hingga bermalam.

"Kami antre itu, mulai terjadi dari ujung Lampung sampai ujung Sumatera Utara. Sepanjang lintas Sumatera, sampai Medan antre minyak. Paling cepat 4 jam, bahkan setelah antre juga tidak dapat," ungkap Alwi Matondang saat dikonfirmasi detikSumut di terminal bus ALS, Amplas, Kota Medan, Minggu (12/7/2026) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alwi juga menuturkan, dalam kondisi ini biaya operasional bertambah, waktu perjalanan juga bertambah. Ia juga menyampaikan, saat ini perjalanan dari Medan ke Jakarta jadi lebih lama.

"Saat ini terjadi biaya operasional bertambah dan waktu perjalanan. Sebelumnya perjalanan dari Medan ke Jakarta 3 hari 3 malam, kini lebih lama kalau cepat bisa 4 hari 4 malam, bahkan lebih. Meskipun seperti itu kondisinya, tarif ongkos belum kita naikkan," terang Alwi.

ADVERTISEMENT

Selain itu, ia juga mengatakan para sopir yang mengalami kendala kelangkaan solar bahkan harus membeli solar eceran di pinggir jalan. Ia mengatakan, jika membeli BBM jenis yang lain harganya terlalu mahal.

"Kalau antisipasi, terpaksa beli yang ketengan di pinggir jalan karena tidak mungkin menelantarkan penumpang. Kerap terjadi di SPBU-nya kosong, tapi di depannya ada jualan pertalite kualitasnya juga nggak bisa kita pastikan dan harganya lebih mahal," imbuhnya.

Ia juga menyampaikan, membeli solar eceran membutuhkan jumlah yang cukup banyak. Selain itu, solar yang dijual di pinggir jalan juga kerap kali tercampur dengan bahan lain hingga dapat menyebabkan kerusakan mesin.

"Kadang-kadang sekali mengisi 3 - 4 liter, kalau kualitasnya bagus sebetulnya nggak ada masalah sama kita, walaupun dinaikkan. Ini kadang ada campurannya, apalah itu namanya sehingga berpengaruh ke mesin," ucapnya.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti SPBU di wilayah Jawa yang minim kendala. Ketika menyeberang dari pulau Jawa, mulailah antrean panjang dan kelangkaan solar di mana -mana di wilayah Sumatera.

"Sepanjang lintas Jawa itu, nggak ada kendala di SPBU tapi ketika kita setelah nyebrang, mulai dari Lampung sampai ke Medan itu semua bermasalah. Semua kondisinya mengantre, kalau dibuat stok berapa liter yang bisa kita stok kan," terangnya.

Ia juga mengeluhkan, hal tersebut telah menjadi kendala selama 3 bulan terakhir sehingga membuat keresahan. Tidak hanya itu, kondisi ini juga membuat perusahaan, sopir hingga penumpang khawatir.

"Itulah sekarang kita hadapi, kalau kami terparah 3 bulan terakhir ini. Sebelumnya memang ada juga tapi masih ada SPBU yang bisa diharapkan tetapi ini hampir merata," keluhnya.

Selain itu, ia juga mengeluhkan ketika para sopir mengantre panjang tetapi sampai giliran dinyatakan BBM habis.

"Yang sakitnya, ketika sampai udah giliran kita habis katanya dan jadinya bermalam," ungkapnya.

Sementara itu, pihak Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menanggapi kondisi penyaluran BBM di Sumatera Utara. Ia sampaikan, pihak Pertamina terus mengoptimalkan distribusi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

"Menanggapi kondisi penyaluran BBM di Sumatera Utara, saat ini Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut terus mengoptimalkan distribusi agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi," ucap Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw saat dikonfirmasi detikSumut, Minggu (12/7/2026).

Fahrougi menyampaikan, pihaknya telah melakukan upaya percepatan penyaluran BBM dengan menambah 15 unit mobil tangki dan 30 awak mobil tangki (AMT) dalam penyaluran keberbagai wilayah di Sumatera Utara.

Humas PT ALS Alwi. (Juita Sinuhaji/detikSumut)Humas PT ALS Alwi. (Juita Sinuhaji/detikSumut)

"Sebagai upaya percepatan, kami telah menambah 15 unit mobil tangki dan 30 AMT bantuan untuk mendukung penyaluran BBM dari Fuel Terminal Medan ke SPBU di berbagai wilayah Sumatera Utara," ungkapnya.

Selain itu, ia juga menegaskan Pertamina terus melakukan monitoring stok dan memprioritaskan pengiriman ke SPBU yang membutuhkan pasokan. Terutama peningkatan kebutuhan selama libur sekolah.

"Kami terus melakukan monitoring stok dan memprioritaskan pengiriman ke SPBU yang membutuhkan pasokan. Terutama di tengah meningkatnya konsumsi selama periode libur sekolah," imbuhnya.

Ia juga mengatakan, agar masyarakat tetap tenang karena distribusi BBM terus dioptimalkann dan pasokan terus diupayakan cepat tersedia di SPBU.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang karena distribusi terus kami optimalkan dan pasokan terus kami upayakan agar segera tersedia di SPBU," pungkasnya.



(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads