Menkop: Format Latsarmil Manajer Kopdes Sudah Berubah

Menkop: Format Latsarmil Manajer Kopdes Sudah Berubah

Amanda Christabel - detikSumut
Sabtu, 11 Jul 2026 22:30 WIB
Kementerian Koperasi RI (Kemenkop) menjamin keberpihakannya terhadap upaya pengembangan Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren)
Menkop Ferry Juliantono (Foto: Kemenkop)
Jakarta -

Pelatihan bergaya militer bagi calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdeskel Merah Putih) telah dievaluasi. Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan evaluasi dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan.

Ferry menyebut hasil koordinasi tersebut menghasilkan perubahan format pelatihan. Selain itu, Kementerian Koperasi juga memperoleh tambahan waktu pelatihan yang akan difokuskan pada penguatan kemampuan nonteknis atau soft skill bagi para calon manajer.

"Kemarin sudah dievaluasi, alhamdulillah dari pihak Kementerian Pertahanan juga sudah mau mengevaluasi. Bahkan formatnya juga sudah berubah, kami di Kementerian Koperasi mendapatkan tambahan hari. Tambahan hari yang diberikan kepada kami akan kita berikan bagaimana (cara) interaksi sosial, soft skill, segala macam yang akan melengkapi pengetahuan mereka," ujar Ferry dalam acara detikSore dilansir dari detikFinance, Sabtu (11/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, dari total 45 hari masa pelatihan, sebanyak 15 hari dialokasikan untuk pembelajaran mengenai manajemen, keuangan, koperasi, serta materi lain yang berkaitan dengan pengelolaan usaha.

Menurut Ferry, keberhasilan operasional Kopdeskel Merah Putih tidak hanya bergantung pada fasilitas fisik maupun kelengkapan produk, tetapi juga sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang memimpinnya.

ADVERTISEMENT

"Sekarang yang terpenting bukan bangunan fisik (koperasinya) yang keren, bukan hanya ditentukan oleh kelengkapan barang dagangannya, tapi kemampuan manajer-manajer Koperasi Desa itu sangat menentukan keberhasilan operasional dari Kopdeskel Merah Putih," tambahnya.

Ferry menuturkan para manajer dituntut mampu menyusun dan menerapkan feasibility study untuk berbagai lini usaha koperasi, mulai dari sektor ritel, layanan keuangan mikro, gerai obat dan klinik, hingga pergudangan serta logistik.

"Teman-teman semuanya harus bisa selain bagaimana mengembangkan usaha dari Kopdeskel Merah Putih, karena model bisnis dan feasibility study yang nanti akan dijadikan pedoman para manajer itu harus juga bagaimana (diterapkan) feasibility study untuk kegiatan ritelnya, untuk keuangan mikronya, untuk gerai obat dan kliniknya, gudang dan logistiknya," bebernya.

"Itu 'kan harus dikemas, diramu oleh seorang manajer Koperasi Desa. Jadi, manajer Kopdes ini dia pemimpin, dia CEO-nya. Dan KPI Kopdes ini harus untung, harus profit, tapi juga namanya bisnis, di manapun perlu waktu, trial and error," pungkas Ferry.



(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads