Pihak Ruben Onsu, diwakili kuasa hukumnya Minola Sebayang, angkat bicara mengenai ramainya seruan boikot terhadap Sarwendah yang belakangan beredar di media sosial.
"Pemboikotan merupakan konsekuensi dari apa yang dilakukan atau apa yang disampaikannya di ruang publik. Yang mana, hal itu mungkin mencederai keadilan atau membuat netizen tidak simpatik," kata Minola Sebayang melalui zoom, dilansir detikHot.
Saat dimintai penjelasan lebih lanjut mengenai aksi boikot tersebut, Minola memilih tidak memberikan komentar tambahan. Ia menegaskan saat ini fokus utamanya adalah perkara hukum yang sedang berjalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu poin utama dalam gugatan yang diajukan berkaitan dengan dugaan eksploitasi anak. Minola menyebut pihaknya masih menyoroti aktivitas siaran langsung di salah satu platform media sosial yang melibatkan anak-anak.
"Patut diduga anak-anak ini tumbuh dalam lingkungan yang tidak aman. Adanya dugaan eksploitasi anak, karena mereka dilibatkan dalam live TikTok di malam hari dan beberapa kegiatan lain yang tak seharusnya dilakukan anak di bawah umur," ungkap Minola.
Di sisi lain, Ruben Onsu mengaku ingin bertemu dengan kedua putrinya secara pribadi tanpa kehadiran media. Menurutnya, ada sejumlah hal yang perlu dibicarakan dan diluruskan terkait hubungannya dengan kedua anaknya.
"Kami perlu bertemu bertiga saja, sehingga saya bilang pelan-pelan bisa melewati ini semua. Saya mau bertemu secara langsung, saya maunya bertemu bertiga saja, tanpa media," papar Ruben Onsu di studio Brownis, Trans TV, Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2026).
Sementara itu, tiga petisi yang berisi ajakan memboikot Sarwendah di platform Change.org terus memperoleh dukungan dari masyarakat. Hingga akhir pekan lalu, jumlah tanda tangan dari ketiga petisi tersebut telah mencapai 62.176 dukungan.
(nkm/nkm)
