Penunjukan sejumlah komisaris di badan usaha milik negara (BUMN) belakangan menjadi perhatian publik. Sejumlah nama dinilai tidak cocok dengan jabatan tersebut karena tidak memiliki latar belakang yang selaras dengan bidang usaha perusahaan pelat merah yang mereka tempati.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menilai keberagaman latar belakang para komisaris justru bertujuan menghadirkan sudut pandang baru dalam mendukung pelaksanaan agenda pemerintah di lingkungan BUMN.
Qodari mencontohkan pengalamannya saat pernah menjabat sebagai komisaris di salah satu BUMN. Meski tidak berasal dari bidang yang sama dengan bisnis inti perusahaan, ia mengaku tetap dapat berkontribusi melalui masukan dan alternatif solusi. Menurutnya, kehadiran komisaris dari latar belakang berbeda dapat memperkaya cara pandang perusahaan dalam menghadapi persoalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dan kalau bicara pengalaman saya di Pertamina Hulu Energi, kita bisa membantu juga untuk melihat alternatif-alternatif solusi. Karena kita datang dari latar belakang yang berbeda, kita datang dari luar, sebetulnya ada perspektif yang baru yang bisa dibawa ke dalam perusahaan di mana kita menjadi komisaris," kata Qodari dilansir detikFinance dari Antara, Minggu (5/7/2026).
Ia menjelaskan, penunjukan komisaris merupakan praktik yang lazim dilakukan, baik di perusahaan milik negara maupun perusahaan swasta. Tugas utama komisaris adalah menjalankan fungsi pengawasan sekaligus memberikan masukan, ide, dan rekomendasi kepada direksi dalam mengelola perusahaan.
Menurut Qodari, seseorang dapat menjalankan peran sebagai komisaris selama memiliki dua bekal utama, yakni akal sehat dan niat baik.
Ia juga berpandangan bahwa individu yang dipercaya menduduki jabatan komisaris BUMN umumnya telah memiliki pengalaman, baik di lingkungan pemerintahan maupun sektor swasta. Pengalaman tersebut kemudian dipadukan dengan perspektif baru dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap perusahaan.
"Kalau hemat saya, kalau namanya komisaris itu sebetulnya modal dasarnya dua. Pertama, akal sehat, yang kedua, niat baik," tutur Qodari.
(nkm/nkm)
