Israel Sebut AS Naif, Buka Peluang Bertindak Sendiri Lawan Iran

Internasional

Israel Sebut AS Naif, Buka Peluang Bertindak Sendiri Lawan Iran

Novi Christiastuti - detikSumut
Rabu, 24 Jun 2026 13:49 WIB
Israeli politician Itamar Ben-Gvir walks inside the Knesset, on the day U.S. President Donald Trump delivers remarks, in Jerusalem, October 13, 2025. (Reuters)
Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir (Foto: dok. Reuters)
Jakarta -

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menilai Amerika Serikat (AS) terlalu percaya diri jika menganggap Iran akan menghentikan program nuklirnya. Ia bahkan memberi sinyal bahwa Israel dapat mengambil langkah sendiri untuk menghadapi Teheran tanpa bergantung pada negara lain.

"Amerika sangat naif jika mereka berpikir Iran akan meninggalkan program nuklirnya dan membatalkannya, dan melepaskan impian mereka untuk menghancurkan Israel," kata menteri garis keras Israel itu dalam wawancara dengan televisi Israel, Channel 7, seperti dilansir Anadolu Agency, Rabu (24/6/2026).

Ben-Gvir menegaskan bahwa Israel memiliki tanggung jawab untuk menangani ancaman yang menurutnya berasal dari Iran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menjadi tanggung jawab Israel untuk menghadapi ancaman Iran ini dan bertindak sendiri melawannya," tegasnya.

Politikus yang kerap menuai kontroversi tersebut juga menyatakan bahwa tidak ada kondisi apa pun yang dapat membuat Israel bertindak berdasarkan arahan negara lain, meskipun negara tersebut merupakan sekutu dekat.

ADVERTISEMENT

Ketegangan antara Washington dan Tel Aviv belakangan kembali mencuat terkait operasi militer Israel di Lebanon yang diklaim menyasar kelompok Hizbullah. Perbedaan pandangan itu muncul ketika AS dan Iran tengah menjalani perundingan guna mencapai kesepakatan damai jangka panjang.

Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran menjalankan program pengembangan nuklir dan rudal yang dianggap mengancam keamanan Israel serta negara-negara sekutu Washington di kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, pemerintah Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankannya bertujuan damai. Teheran juga membantah memiliki ambisi mengembangkan senjata nuklir maupun mengancam negara lain.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran memanas sejak 28 Februari lalu ketika Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran. Aksi tersebut dibalas Teheran dengan serangan yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah aset militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pertempuran akhirnya mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April. Meski demikian, setelah kesepakatan tersebut masih terjadi sejumlah aksi saling serang antara AS, Iran, dan Israel sebelum tercapainya kesepakatan damai awal pada Juni.

Sebagai bagian dari upaya perdamaian, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara elektronik pada 17 Juni. Dokumen tersebut disusun sebagai landasan untuk mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan antara kedua negara.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads