AS Disebut Lagi Incar Aset Iran untuk Biayai Dampak Perang

Internasional

AS Disebut Lagi Incar Aset Iran untuk Biayai Dampak Perang

Retno Ayuningrum - detikSumut
Minggu, 07 Jun 2026 23:29 WIB
A woman waves an Iranian flag in front of an anti-US billboard referring to US President Donald Trump and the Strait of Hormuz at Valiasr Square in Tehran on May 5, 2026. Irans chief negotiator in talks with the United States warned on May 5 that his country has not even started in its standoff over the Strait of Hormuz. (Photo by AFP) /
Foto: AFP
Jakarta -

Pemerintah Amerika Serikat (AS) disebut tengah menyiapkan langkah untuk mengalihkan aset-aset milik Iran kepada negara-negara Teluk guna mendanai pembangunan kembali serta memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan akibat serangan Iran. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Dikutip detikFinance dari CNBC International, Minggu (7/6/2026), wacana itu muncul setelah Iran kembali melancarkan serangan drone ke Bahrain dan Kuwait pada Sabtu (6/6). Sumber tersebut mengungkapkan bahwa Menteri Keuangan AS Scott Bessent telah menugaskan tim khusus untuk menghitung total kerugian yang dialami sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk akibat serangan Iran.

Pada saat yang sama, AS juga disebut sedang mengkaji kemungkinan pemanfaatan aset Iran untuk membiayai perbaikan kerusakan yang ditimbulkan oleh negara tersebut pada masa mendatang. Informasi ini mencuat sehari setelah penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan kepada CNN bahwa kesepakatan damai guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga bulan sangat bergantung pada pencairan aset Iran senilai US$ 24 miliar yang dibekukan oleh AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, sumber tersebut tidak menjelaskan secara rinci jenis aset Iran yang sedang ditelaah oleh Departemen Keuangan AS. Namun, pernyataan itu mengindikasikan bahwa langkah yang sedang dipertimbangkan Washington kemungkinan tidak hanya menyasar aset yang selama ini dibekukan.

Rencana pengalihan aset Iran berpotensi memperumit situasi dan memicu ketegangan baru dalam kesepakatan gencatan senjata yang masih rapuh antara AS dan Iran. Kesepakatan tersebut kembali menghadapi ujian pada akhir pekan setelah kedua pihak saling melancarkan serangan.

ADVERTISEMENT

Upaya perundingan damai juga belum menunjukkan kemajuan berarti. Kondisi ini terjadi meskipun seorang menteri dari Pakistan yang bertindak sebagai mediator telah berangkat ke Iran pada Sabtu dengan membawa surat untuk pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Pada Sabtu dini hari, militer AS melancarkan serangan terhadap fasilitas radar pesisir Iran di Goruk dan Pulau Qesh yang berada di Selat Hormuz. Operasi tersebut dilakukan setelah pasukan AS menembak jatuh drone yang diluncurkan Iran.

Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), serangan drone Iran dinilai membahayakan lalu lintas maritim di kawasan tersebut. Militer AS juga menyatakan telah menembak jatuh dua drone tempur Iran lainnya yang dianggap mengancam keamanan pelayaran di Selat Hormuz.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads