Bagi masyarakat Muslim, Idul Adha adalah salah satu perayaan yang paling ditunggu setiap tahun. Menariknya, di Indonesia, perayaan ini memiliki beragam sebutan. Sebagian orang menyebutnya Hari Raya Kurban, sementara yang lain lebih sering menggunakan istilah Lebaran Haji.
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa istilah Lebaran Haji begitu erat terkait dengan perayaan Idul Adha? Apa sebenarnya hubungan yang mendalam antara penyembelihan hewan kurban dengan pelaksanaan ibadah haji di tanah suci?
Mari kita jelajahi bersama asal-usul sejarah dan makna yang mendalam di balik istilah yang populer ini dengan cara yang ringan dan mudah dipahami!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebab Utama di Balik Istilah Lebaran Haji
Penamaan Lebaran Haji ternyata memiliki alasan yang kuat. Berdasarkan literatur dalam buku Urbanisasi dan Permasalahannya karya Dwi C. P., istilah ini muncul karena momen Idul Adha bersamaan dengan waktu di mana jutaan umat Islam dari berbagai belahan dunia berkumpul untuk melaksanakan ibadah haji di Makkah.
Bisa dibilang, Idul Adha adalah puncak atau bagian paling suci dari seluruh rangkaian ibadah haji. Pada saat ini, para jemaah haji yang sedang berada di Tanah Suci juga berpartisipasi dalam penyembelihan hewan kurban sebagai simbol kepatuhan mereka kepada Allah SWT.
Oleh sebab itu, masyarakat di tanah air secara alami menamai hari raya ini sebagai Lebaran Haji, karena pikiran kita langsung teringat pada kerabat atau umat Muslim yang sedang menyelesaikan rukun Islam yang kelima di Makkah.
Jika kita menelusuri lebih dalam dari data resmi Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), sejarah Idul Adha dan rangkaian ibadah haji sebetulnya tidak bisa dipisahkan dari potret sejarah kehidupan Nabi Ibrahim AS.
Di dalam Al-Qur'an, diabadikan sebuah kisah luar biasa mengenai ujian keimanan Nabi Ibrahim AS ketika diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengorbankan putra tercintanya, Nabi Ismail AS. Perintah ini menjadi bukti nyata sebuah kepatuhan mutlak seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Ketaatan luar biasa yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS ini juga selaras dengan firman Allah SWT dalam Surat An-Nahl ayat 120: Sesungguhnya Ibrahim adalah imam (sosok anutan) yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), dan bukan termasuk orang-orang musyrik." Melihat ketulusan dan keteguhan hati Nabi Ibrahim AS yang siap menjalankan perintah tersebut, Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail AS dengan seekor domba sebagai bentuk pengorbanan yang diterima di sisi-Nya.
Dari Sejarah Menjadi Tradisi Mulia
Peristiwa penggantian kurban dengan domba itulah yang menginspirasi tradisi perayaan ibadah kurban yang kita jalankan hingga saat ini setiap selesai melaksanakan Salat Id. Daging dari hewan yang disembelih, baik itu sapi, kambing, maupun domba, tidak hanya dinikmati oleh diri sendiri, tetapi juga dibagikan kepada masyarakat sekitar, terutama untuk mereka yang kurang mampu dan memerlukan.
Oleh karena itu, hubungan antara Idul Adha dan Lebaran Haji sangat kuat, keduanya membawa makna pengorbanan, keikhlasan, dan kepatuhan penuh pada perintah Allah SWT, seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS.
Perayaan ini menjadi momen kebersamaan, baik bagi para jemaah yang sedang menunaikan ibadah haji di Makkah, maupun bagi kita yang merayakannya di kampung halaman melalui Salat Id dan penyembelihan hewan kurban.
Sekarang, Anda pasti sudah paham, bukan? Lebaran Haji bukanlah sebuah istilah sembarangan, melainkan istilah yang sarat dengan nilai sejarah, spiritual, dan semangat berbagi di antara sesama umat manusia. Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha!
Artikel ini ditulis oleh peserta magang Kemanker, Dwi Puspa Handayani Berutu di detik.com.
(afb/afb)











































