Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk memberikan uranium diperkaya tinggi untuk diserahkan ke Amerika Serikat (AS). Jika hal itu tidak diserahkan, Trump akan menghancurkan uranium tersebut.
"Uranium yang diperkaya (Debu Nuklir!) akan segera diserahkan kepada Amerika Serikat untuk dibawa pulang dan dihancurkan atau, lebih disukai, secara bersamaan dan terkoordinasi dengan Republik Islam Iran, dihancurkan di tempat atau di lokasi lainnya yang dapat diterima, dengan Komisi Energi Atom, atau yang setara dengannya, sebagai saksi proses dan peristiwa ini," kata Trump dikutip detikNews dari Anadolu Agency, Selasa (26/5/2026).
Uranium yang diperkaya tinggi milik Iran, bersama dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, menjadi poin pembahasan alot dalam perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran, yang dimediasi Pakistan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan media terkemuka AS, New York Times (NYT), dengan mengutip sumber pejabat Washington sebelumnya mengungkapkan bahwa pada prinsipnya, AS dan Iran telah mencapai kesepakatan awal untuk membuka kembali Selat Hormuz. Hal itu sebagai imbalan atas komitmen Teheran memusnahkan uranium yang diperkaya tinggi.
Namun kemudian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menepis laporan media Barat yang menyebut kesepakatan antara Teheran dan Washington semakin dekat. Meskipun Baghaei mengakui bahwa Iran telah mencapai kesepahaman dengan AS pada banyak isu dalam perundingan.
"Memang benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan pada sebagian besar isu yang sedang dibahas. Tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan perjanjian sudah dekat -- tidak ada yang dapat menyampaikan klaim semacam itu," kata Baghaei dalam konferensi pers mingguan di Teheran.
Secara terpisah, Pakistan sebagai mediator konflik terus mengupayakan perdamaian, dengan panglima militer negara tersebut, Marsekal Lapangan Asim Munir, mengatakan kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi bahwa kesepakatan AS-Iran "hampir tercapai".
Munir menyampaikan hal tersebut dalam pertemuan di Beijing pada Senin (25/5), yang digelar bersamaan dengan kunjungan resmi Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif ke China.
Sebelum terbang ke Beijing, Munir berkunjung ke Teheran pekan lalu dalam upaya mendorong tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang berkecamuk sejak akhir Februari lalu.
Dalam pembicaraan di Beijing, Munir mengatakan bahwa Pakistan bersedia untuk "terus melakukan segala upaya" untuk memfasilitasi kesepakatan dan menyatakan harapan agar China memainkan peran yang lebih besar dalam proses tersebut.
Simak Video "Video Hindari Konflik Selat Hormuz, Trump Tegaskan AS Bakal Sita Uranium Iran"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































