Rupiah Melemah Bikin Keuntungan Petani Tergerus

Rupiah Melemah Bikin Keuntungan Petani Tergerus

Marbun - detikSumut
Kamis, 21 Mei 2026 03:00 WIB
Nasabah tengah menyetor dana di salah satu cabang Bank Mandiri Jakarta, Jumat (6/5/2015). Bank Mandiri mengoperasikan sebanyak 148 kantor cabang di seluruh Indonesia pada saat libur Isra Miraj untuk menerima pembayaran pembelian BBM oleh SPBU-SPBU.
Foto: Rachman Haryanto
Medan -

Nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS berdampak ke banyak hal terutama masyarakat kecil. Bahkan keuntungan petani di tingkat bawah menjadi tergerus.

Dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Arif Rahman mengatakan pelemahan rupiah memang dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global. Namun, tidak dengan perekonomian petani kecil.

"Ketika rupiah melemah, harga produk ekspor Indonesia menjadi relatif lebih murah di pasar internasional sehingga berpeluang meningkatkan volume perdagangan. Hanya saja, manfaat ini tidak selalu dirasakan merata oleh petani kecil karena margin keuntungan mereka sering kali sudah tergerus lebih dulu oleh kenaikan biaya produksi di hulu," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, banyak kebutuhan sektor pertanian Indonesia masih bergantung pada impor seperti pupuk, pestisida, mesin pertanian, plastik mulsa, hingga pakan ternak. Ketika dolar menguat, biaya impor barang-barang tersebut ikut meningkat dan berdampak pada pengeluaran petani.

ADVERTISEMENT

Selain sektor produksi, pelemahan rupiah juga dinilai memicu kenaikan ongkos distribusi, energi, dan transportasi yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi di masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Arif turut menyoroti pentingnya komunikasi publik pemerintah dalam menyampaikan kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, komunikasi ekonomi memang perlu dibuat sederhana dan menenangkan, tetapi tetap harus akurat secara substansi.

"Jika narasi yang terlalu disederhanakan terus disampaikan, hal tersebut justru dapat menjadi bumerang yang mengikis tingkat kepercayaan masyarakat maupun pelaku usaha terhadap kapasitas pengelolaan ekonomi pemerintah," ujarnya.

Sebagai langkah mitigasi, ia menilai sinergi kebijakan fiskal dan moneter harus diperkuat untuk menjaga stabilitas rupiah dan ekonomi nasional. Bank Indonesia dinilai perlu konsisten melakukan intervensi di pasar valuta asing serta menjaga suku bunga tetap kompetitif.

Di sisi lain, pemerintah juga diminta menjaga kesehatan APBN dengan memprioritaskan belanja yang produktif dan berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi masyarakat.

"Terakhir dan yang paling krusial bagi masyarakat desa, pemerintah wajib menjaga stabilitas harga pangan dan energi domestik. Langkah ini tidak hanya penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat bawah, tetapi juga demi mengirimkan sinyal positif ke pasar global bahwa fundamental ekonomi nasional masih kokoh terkendali," pungkasnya.

Artikel ditulis Nanda M Marbun, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Prabowo Targetkan Defisit APBN 2027 Maksimal 2,4 Persen PDB"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads