Panu atau Pityriasis versicolor menjadi salah satu penyakit kulit yang cukup sering ditemukan di negara beriklim tropis seperti Indonesia. Cuaca panas dan kelembapan tinggi menjadi lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan jamur penyebab panu.
Tak heran jika penyakit kulit ini banyak menyerang masyarakat, terutama pada area tubuh yang mudah berkeringat seperti dada, punggung, leher hingga lengan.
Faktor Penyebab Panu
Dikutip dari Jurnal Medika Hutama Vol. 03 No. 02 Januari 2022 berjudul Hubungan Personal Hygiene Individu dengan Kejadian Pityriasis Versicolor Sebuah karya Wahyu Radila, Panu disebabkan oleh jamur dari genus Malassezia yang sebenarnya hidup secara normal di permukaan kulit manusia. Dalam kondisi tertentu, jamur tersebut dapat berkembang berlebihan dan memicu infeksi pada lapisan luar kulit atau stratum korneum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gejala panu biasanya ditandai dengan munculnya bercak berwarna lebih terang atau lebih gelap dibanding warna kulit sekitar. Permukaan kulit terkadang tampak bersisik halus dan pada sebagian orang dapat menimbulkan rasa gatal, terutama saat cuaca panas atau tubuh berkeringat.
Faktor lainnya seperti kebersihan memang menjadi salah satu penyebab yang berpengaruh. Kebiasaan jarang mandi, memakai pakaian lembap, lingkungan yang kurang bersih hingga produksi keringat berlebih dapat meningkatkan risiko munculnya panu.
Selain itu, Indonesia yang memiliki suhu hangat dan tingkat kelembapan tinggi membuat penyebaran penyakit kulit akibat jamur lebih mudah terjadi. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kebersihan tubuh dan kesehatan kulit.
Meski tidak termasuk penyakit berbahaya, panu kerap membuat penderitanya merasa kurang percaya diri karena bekas bercaknya terlihat jelas di kulit. Bahkan, tidak sedikit orang menganggap panu identik dengan kurang menjaga kebersihan diri.
Cara Mengatasi Panu di Rumah
Dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga, Panu ringan umumnya dapat diatasi sendiri di rumah menggunakan krim, salep, sabun, atau sampo antijamur yang mengandung clotrimazole, miconazole, terbinafine, hingga selenium sulfide. Sebelum digunakan, area kulit yang terkena panu sebaiknya dibersihkan dan dikeringkan terlebih dahulu agar obat bekerja lebih maksimal.
Penggunaan obat secara rutin selama beberapa minggu dapat membantu mengurangi infeksi jamur dan mencegah penyebaran panu ke area kulit lainnya.
Cara Mengatasi Panu Secara Medis
Jika panu tidak kunjung membaik atau semakin menyebar, pemeriksaan ke dokter kulit perlu dilakukan. Dokter biasanya akan memeriksa kondisi kulit untuk memastikan infeksi jamur sebelum memberikan pengobatan yang lebih kuat seperti fluconazole, ketoconazole, atau itraconazole.
Meski jamur sudah hilang, bercak pada kulit terkadang masih terlihat dan membutuhkan waktu untuk kembali ke warna normal.
Demikianlah informasi mengenai penyebab panu dan cara mengatasinya, semoga bermanfaat ya detikers!
Artikel ini ditulis Nanda M Marbun, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video: Ada Kasus Penyakit Kulit Berbenjol, Jembrana Bali Di-Lockdown"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































