Belakangan ini dunia internasional dihebohkan dengan pemberitaan kemunculan virus Hanta di kapal persiar MV Hondius yang beroperasi di dekat Tanjung Verde, menyebabkan 3 orang meninggal dan beberapa lainnya sakit. Sebanyak 149 penumpang dan kru tertahan akibat insiden yang pertama kali terkait kapal pesiar ini.
Lantas, apa sebenarnya Hantavirus itu dan apakah berbahaya seperti kasus penemuan Covid-19? Simak penjelasannya di artikel ini.
Apa itu Hantavirus?
Dikutip dari laman resmi World Health Organization (WHO) Hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat seperti tikus dan kadang-kadang ditularkan ke manusia. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah dan seringkali kematian, meskipun penyakitnya bervariasi tergantung jenis virus dan lokasi geografis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Amerika, infeksi diketahui menyebabkan sindrom kardiopulmoner hantavirus (HCPS), suatu kondisi yang berkembang pesat dan memengaruhi paru-paru dan jantung, sedangkan di Eropa dan Asia hantavirus diketahui menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS), yang terutama memengaruhi ginjal dan pembuluh darah.
Hingga saat ini belum ada pengobatan khusus yang dapat menyembuhkan penyakit hantavirus, akan tetapi perawatan medis suportif sejak dini sangat penting untuk meningkatkan harapan hidup dan berfokus pada pemantuan klinis yang ketat serta penangannan komplikasi penafasan, jantung, dan ginjal. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi kontak antara dan manusia dan hewan pengerat yang terinfeksi.
Penularan Hantavirus
Penularan Hantavirus ke manusia dapat terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, atau hewan penerat yang terinfeksi. Meskipun lebih jarang, Hantavirus juga dapat tertular melalui gigitan hewan pengerat.
Aktivitas yang melibatkan kontak dengan hewan pengerat seperti membersihkan ruang tertutup atau berventilasi buruk, pertanian, pekerjaan kehutanan, dan tidur di tempat tinggal yang dipenuhi hewan pengerat meningkatkan risiko paparan.
Gejala dan Gambaran Klinis
Pada manusia, gejala biasanya mulai muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar, dan biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan gejala gastrointestinal seperti sakit perut, mual, atau muntah.
Β· Pada HCPS, penyakit ini dapat berkembang dengan cepat menjadi batuk, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, dan syok.
Β· Pada HFRS, stadium lanjut dapat mencakup tekanan darah rendah, gangguan pembekuan darah, dan gagal ginjal.
Diagnosa Terpapar
Diagnosis dini infeksi hantavirus bisa jadi sulit karena gejala awalnya mirip dengan penyakit demam atau pernapasan lainnya, seperti influenza, COVID-19, pneumonia virus, leptospirosis, demam berdarah, atau sepsis.
Oleh karena itu, riwayat pasien yang cermat sangat penting, dengan perhatian khusus pada kemungkinan paparan hewan pengerat, risiko pekerjaan dan lingkungan, riwayat perjalanan, dan kontak dengan kasus yang diketahui di daerah tempat hantavirus berada.
Penjegahan dan Pengendalian
Pencegahan infeksi hantavirus terutama bergantung pada pengurangan kontak antara manusia dan hewan pengerat. Langkah-langkah efektif meliputi:
Β· menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja
Β· menutup celah yang memungkinkan hewan pengerat masuk ke dalam bangunan.
Β· menyimpan makanan dengan aman
Β· menggunakan praktik pembersihan yang aman di area yang terkontaminasi oleh hewan pengerat
Β· menghindari menyapu kering atau menyedot kotoran tikus dengan penyedot debu
Β· membasahi area yang terkontaminasi sebelum dibersihkan.
Β· Memperkuat praktik kebersihan tangan.
Artikel ini ditulis oleh Eme Arapenta Tarigan, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom
(nkm/nkm)











































