Iran kembali melontarkan ancaman terhadap Amerika Serikat (AS) di tengah konflik Timur Tengah yang terus berlarut. Teheran memperingatkan akan menyerang pasukan AS yang mencoba memasuki Selat Hormuz, yang diklaim berada di bawah kendali Iran.
Selama lebih dari dua bulan, Iran dilaporkan telah memblokade hampir seluruh jalur pengiriman dari kawasan Teluk, kecuali pengiriman miliknya sendiri. Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak. Sejumlah kapal yang mencoba melintas dikabarkan ditembaki, sementara beberapa lainnya disita oleh Iran. Pada bulan sebelumnya, AS juga memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang berasal dari pelabuhan Iran.
Pada akhir pekan lalu, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS akan mulai membantu mengevakuasi kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz akibat konflik antara AS-Israel melawan Iran. Pernyataan ini disampaikan setelah adanya laporan sebuah kapal tanker terkena proyektil tak dikenal di jalur strategis tersebut.
Belum ada kejelasan mengenai negara mana saja yang akan dibantu maupun mekanisme operasi tersebut. Trump hanya memberikan sedikit gambaran tentang rencana penyelamatan kapal dan awak yang terjebak di Selat Hormuz, yang saat ini kekurangan logistik seperti makanan dan kebutuhan lainnya.
"Kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur air yang dibatasi ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka," kata Trump dalam sebuah unggahan di situs Truth Social miliknya pada hari Minggu (3/5) waktu setempat, dilansir detikNews dari kantor berita AFP, Senin (4/5).
Menurut Organisasi Maritim Internasional, ratusan kapal serta sekitar 20.000 pelaut tidak dapat melintasi Selat Hormuz selama konflik berlangsung. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan akan mendukung operasi ini dengan mengerahkan 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, serta kapal perang dan drone.
"Dukungan kami untuk misi pertahanan ini sangat penting bagi keamanan regional dan ekonomi global karena kami juga mempertahankan blokade angkatan laut," kata Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM, dalam sebuah pernyataan.
Trump juga tetap bersikeras bahwa serangan AS telah menghancurkan sepenuhnya situs nuklir Iran, meskipun ada laporan intelijen yang menyebut dampaknya hanya sementara.
Ancaman Iran
Militer Iran menegaskan bahwa pasukan AS akan menjadi target serangan jika memasuki Selat Hormuz. Peringatan ini disampaikan pada Senin (4/5), menyusul pengumuman Trump mengenai rencana pengawalan kapal oleh Washington di jalur perairan tersebut.
"Kami memperingatkan bahwa setiap pasukan bersenjata asing -- terutama militer AS yang agresif -- jika mereka bermaksud mendekati atau memasuki Selat Hormuz, akan menjadi sasaran dan diserang," kata Mayor Jenderal Ali Abdollahi dari komando pusat militer Iran, dalam pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB.
"Kami telah berulang kali menyatakan bahwa keamanan Selat Hormuz berada di bawah kendali angkatan bersenjata Republik Islam Iran, dan dalam keadaan apa pun, setiap jalur aman harus dikoordinasikan dengan pasukan tersebut," tegasnya, dilansir kantor berita AFP, Senin (4/5).
Simak Video "Video AS Mau Blokade Selat Hormuz, Analis Iran: Cuma Memperparah Harga Migas"
(nkm/nkm)