May Day 2026 di Batam, SPSI Angkut 60 Ton Sampah

May Day 2026 di Batam, SPSI Angkut 60 Ton Sampah

Alamudin Hamapu - detikSumut
Jumat, 01 Mei 2026 19:00 WIB
SPSI mengangkut sampah menggunakan puluhan armada truk dan pick up dalam aksi bersih-bersih serentak di sejumlah kecamatan di Batam.
Foto: SPSI mengangkut sampah menggunakan puluhan armada truk dan pick up dalam aksi bersih-bersih serentak di sejumlah kecamatan di Batam. (Dok. Alamudin/detikSumut)
Batam -

Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Kota Batam berlangsung berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ribuan buruh yang tergabung dalam Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) memilih menggelar aksi bersih-bersih sampah serentak di sejumlah titik di Batam, Jumat (1/5/2026).

Ketua DPD FSP LEM SPSI Provinsi Kepulauan Riau, Saipul Badri, mengatakan peringatan Hari Buruh tahun ini menjadi momentum menunjukkan bahwa buruh tidak hanya identik dengan aksi tuntutan di jalan.

"Buang pemikiran bahwa buruh itu tidak selalu menuntut. Ada saatnya menuntut, ada saatnya kita membangun sinergitas dengan seluruh elemen," kata Saipul Badri saat kegiatan May Day di Batam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, perjuangan buruh tetap penting dilakukan, namun pendekatan gerakan juga harus menyesuaikan perkembangan zaman dan kondisi sosial masyarakat.

"Yang namanya buruh itu tuntutannya seabrek banyaknya. Tetapi ada saatnya kita memang berjuang menyampaikan tuntutan, dan ada saatnya juga membuktikan bahwa kita mampu bersinergi, mampu berdialog, dan mampu mencarikan solusi," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Saipul menjelaskan, kegiatan May Day tahun ini difokuskan pada aksi sosial dan lingkungan dengan membersihkan tempat pembuangan sampah liar di berbagai kecamatan di Batam. Kegiatan itu melibatkan puluhan armada pengangkut sampah.

"Total mobil yang turun sekitar 60 unit se-Kota Batam. Kalau dihitung tonasenya sekitar 50 sampai 60 ton sampah berhasil diangkut hanya dalam waktu dua jam," katanya.

Ia menyebut aksi tersebut bukan mengambil alih tugas pemerintah, melainkan bentuk pesan moral dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

"Kita tidak mungkin berbicara sejahtera kalau hidup di lingkungan yang kotor. Isu sampah di Batam ini juga masih sangat santer," ujarnya.

Saipul menambahkan, pola gerakan buruh ke depan harus lebih adaptif terhadap perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi.

"Zaman berubah, kondisi ekonomi berubah, teknologi berubah. Maka model pergerakan buruh juga harus berubah. Kita tidak boleh hanya hadir sebagai pembawa masalah, tetapi juga pemberi solusi," tegasnya.

Sementara itu, Amsakar Achmad yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan kepentingan pekerja dan pengusaha demi mempertahankan stabilitas ekonomi daerah.

Dalam pidatonya, Amsakar menyoroti penetapan Upah Minimum Kota (UMK) Batam terbaru yang disebutnya sebagai salah satu keputusan paling kondusif dalam lebih dari satu dekade terakhir.

"Keputusan UMK yang ditetapkan kemarin menjadi salah satu yang paling kondusif selama 11 tahun saya memimpin Batam. Kita memilih jalan tengah yang mempertemukan kepentingan pekerja dan pengusaha," ujar Amsakar.

Ia mengakui pembahasan UMK tetap memiliki tantangan karena mulai menyentuh komponen upah yang sebelumnya jarang dibahas.

Selain itu, Amsakar juga memaparkan capaian ekonomi Batam yang dinilai positif. Realisasi investasi sepanjang tahun terakhir mencapai Rp 69,3 triliun atau 115,5 persen dari target yang ditetapkan.

Menurutnya, pemerintah pusat juga memberikan apresiasi terhadap Batam atas keberhasilan menurunkan angka kemiskinan dan menekan tingkat pengangguran terbuka.

Namun demikian, Amsakar mengatakan Batam masih menghadapi tantangan besar di sektor ketenagakerjaan akibat tingginya arus migrasi masuk.

"Pertumbuhan angkatan kerja terus meningkat. Ini tantangan nyata yang harus kita hadapi bersama," ujarnya.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads