Sinar matahari pagi menyusup tipis melalui kaca mobil yang melaju perlahan di dekat Gerbang Tol Tanjung Morawa. Di kursi penumpang, Aini menatap layar ponselnya, memantau CCTV lalu lintas tol yang akan ia lalui, penentu kelancaran perjalanan menuju Danau Toba.
"Gimana? Ada macet, nggak?" tanya Singgih, suami Aini yang menyetir di sampingnya.
"Nggak terlalu. Paling agak ramai di Tanjung Morawa-nya, selebihnya aman," jawab Aini, tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Bagi Aini, mengetahui kondisi lalu lintas sebelum memasuki tol bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Ia ingin memastikan perjalanan tetap lancar sekaligus mengantisipasi hambatan sejak awal. Melalui fitur CCTV di Travoy, ia merasa lebih siap dan tenang.
"Belum lama pakai Travoy dan ini kita bisa pantau daerah yang lengang sama padat," ujar Aini sambil menunjukkan area titik lengang ruas Tol Tanjung Morawa dari CCTV melalui layar ponselnya.
Peran Aini sebagai 'navigator' membuatnya akrab dengan informasi lalu lintas. Namun, kondisi itu tidak selalu seperti sekarang. Ia mengingat masa ketika perjalanan di jalan tol kerap diwarnai ketidakpastian-melaju tanpa gambaran kondisi di depan, hingga tiba-tiba terjebak kemacetan panjang tanpa tahu penyebabnya.
"Saya yang pegang Travoy dan info kondisi jalan tol yang kita lewati ke suami yang nyetir. Sekarang sih enggak terlalu deg-degan lagi ya tanpa tahu penyebabnya, kalau dulu kita masuk jalan tol ya tidak tahu kejadian di depan kita, rupanya udah macet saja, mau balik juga nggak bisa," jelasnya.
"Kalau ada CCTV ini, kita bisa tahu ternyata dan bisa milih untuk mau pilih jalur lain atau tunda dulu," sambung Aini.
Ingatan itu mengarah ke November 2025. Saat itu, perjalanan Aini dan suaminya dari Tebing Tinggi menuju Medan berubah arah setelah ruas Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi KM 41+600 Jalur B amblas. Mereka harus dialihkan ke Gerbang Tol Kualanamu, menambah jarak tempuh yang tidak direncanakan.
"Pernah kita pas itu dari Tebing Tinggi mau pulang ke Medan ya, rupanya amblas pula. Jalurnya dialihkan ke Gerbang Tol Kualanamu, panik sama ragu-ragu juga lah kita itu. Sempat adu mulut sama suami pilih lewat tol atau enggak, ya sudah akhirnya kita lewat jalur tol lain," jelas Aini.
"Coba aja kita udah tahu ada aplikasi ini, kan bisa sigap kita cari alternatif biar enggak sampai terjebak," sambungnya dibarengi tawa kecil.
Kini, situasi serupa dapat diantisipasi lebih dini. Di tengah perjalanan, Aini menunjukkan notifikasi dari Travoy yang mengimbau pengendara untuk mengurangi kecepatan di titik rawan kecelakaan, informasi yang langsung ia sampaikan kepada suaminya.
"Ada notifikasi ini menolong karena waktu bisa lebih efisien dan kita bisa ambil keputusan. Kita nggak asal jalan tanpa kondisi di depan," katanya.
Informasi Real Time Saat Arus Mudik
Akses informasi ini tidak hanya membantu perjalanan harian, tetapi menjadi krusial saat momen mudik Lebaran. Pada periode ini, volume kendaraan meningkat signifikan, antrean mengular di gerbang tol, dan rest area dipadati pengguna jalan.
Dalam kondisi padat dan dinamis, pengendara tidak lagi sekadar menerka. Mereka dapat memastikan kondisi lalu lintas sebelum melintas. Melalui Travoy, arus kendaraan bisa dipantau secara real time, bukan lagi berbasis perkiraan.
Data PT Jasa Marga menunjukkan fitur pemantauan CCTV menjadi yang paling banyak diakses, mencapai 3,59 juta kali selama periode Lebaran. Disusul fitur tarif tol sebanyak 500 ribu akses, peta 240 ribu akses, informasi rest area 138 ribu akses, serta resi digital 10 ribu akses.
Angka tersebut memperlihatkan satu hal: akses informasi real time telah menjadi kebutuhan utama dalam perjalanan jarak jauh, khususnya saat arus mudik.
Ridho, pengendara asal Medan, merasakan langsung manfaat ini saat mudik ke Rantauprapat bersama keluarga kecilnya. Bahkan sebelum keluar rumah, ia sudah memantau kondisi gerbang tol dan ruas jalan yang akan dilalui.
"Kita berangkat H-4 sebelum lebaran ya, kita mikirnya pasti makin ramai ya. Kita cek dulu di Travoy itu bagaimana suasananya di gerbang tol sama di (ruas) jalannya lewat CCTV. Istri saya yang bantu mengecek kondisinya," kata Ridho.
"Rupanya kita cek di Tol Amplas pas pagi hari enggak terlalu padat. Ya sudah, kita tancap gas langsung," lanjutnya.
Bagi Ridho, informasi ini menjadi dasar dalam mengambil keputusan selama perjalanan, apakah melanjutkan perjalanan atau beristirahat di rest area.
"Lumayan membantu lah, kami bisa pilih mau jalan terus atau singgah ke rest area dulu," ucapnya.
Simak Video "Video: Korlantas Pakai Face Recognition, 16 Ribu Pelanggaran Pelat Nomor Terekam ETLE"
(ksr/afb)