Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi terkait pernyataannya mengenai kebutuhan 19 ribu ekor sapi per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan tersebut sebelumnya sempat memicu perdebatan di kalangan publik dan akademisi.
Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Panjono, sebelumnya sempat mempertanyakan transparansi distribusi daging sapi tersebut. Pasalnya, dalam praktik uji coba, menu daging sapi justru jarang ditemukan.
"Kalau benar 19 ribu ekor sapi dipotong dalam sehari, dan 4 kali dalam sebulan, seharusnya daging sapi rutin muncul dalam menu. Tapi dalam praktiknya, menu MBG lebih banyak ayam, telur, dan ikan. Jadi, rasanya perlu dibuktikan kebenarannya. Belum lagi terkait ketersediaan sapinya," ujar Prof. Panjono melansir detikHealth.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal tersebut, Dadan menegaskan bahwa angka itu muncul berdasarkan rasio kebutuhan per unit pelayanan. Dadan menyebut hal itu usai meresmikan SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi pada Selasa (21/4)
"Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG, kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor. Kalau misalnya SPPG hari ini mau masak daging sapi. Kalau seluruh SPPG kita perintahkan nanti tanggal sekian kita mau masak sapi, itu tinggal dijumlahkan berapa jumlah SPPG kalikan satu ekor sapi," jelas Dadan.
Dadan menambahkan bahwa dalam sekali proses masak, satu unit SPPG membutuhkan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging.
"Menunya itu ada telur, ada ayam, ada sapi, ada ikan. Misalnya, kalau ini masak daging sapi, maka butuh 350 kilogram sekali masaknya berarti satu ekor sapi. Ini lah pentingnya makan bergizi agar tangkapan rasionya bagus. Jadi, satu kali masak daging sapi butuh 382 (kg), itu artinya satu ekor sapi, dagingnya saja," tambahnya.
BGN menegaskan tidak akan menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional. Strategi ini diambil untuk menjaga stabilitas harga pangan di pasar agar tidak terjadi lonjakan mendadak akibat permintaan yang masif.
Dadan berkaca pada peristiwa perayaan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu, di mana menu telur untuk 36 juta orang sempat mengguncang harga pasar.
"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik Rp3.000," ungkapnya.
Oleh karena itu, BGN mengarahkan agar penyusunan menu MBG disesuaikan dengan ketersediaan sumber daya dan kearifan lokal di masing-masing daerah.
"Karena kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan juga kesukaan masyarakat lokal. Supaya juga tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik," pungkas Dadan.
(afb/afb)











































