Fenomena 'Fatherless' sering terjadi dan disebut berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak. Ahli Psikolog Klinis, Sairah menjelaskan dampak dan cara menangani fenomena tersebut.
"Secara psikologis, Fatherless itu tidak adanya figur ayah, bukan berarti secara fisik ayahnya tidak ada, kadang-kadang walaupun ada secara fisik tapi tidak hadir secara emosional, maka itu juga dikatakan fatherless," jelasnya saat diwawancarai detikSumut, Rabu (22/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sairah menyebut fenomena 'fatherless' juga bisa terjadi jika ayah tidak terlibat dalam pengasuhan. Selain itu minimnya komunikasi dan kedekatan juga dapat beresiko membuat anak menjadi kekurangan figur seorang ayah.
"Juga bisa berarti ayah ada secara fisik tapi tidak terlibat di dalam pengasuhan. Kemudian minim komunikasi atau kedekatan dengan anak-anak atau tidak menjalankan fungsinya sebagai figur ayah. Jadi anak yang punya ayah tapi kehilangan peran ayah secara emosional itu juga termasuk dalam kategori fatherless," ujarnya.
Sairah menjelaskan bahwa peran ayah dan ibu sangat berpengaruh terhadap pencegahan penyimpangan hingga kenakalan remaja yang terjadi. Fenomena 'fatherless' ini juga berdampak terhadap perkembangan anak secara emosional.
"Biasanya fenomena-fenomena terjadinya penyimpangan pada anak maupun kepada kenakalan remaja, itu biasanya peran keduanya, baik mother maupun father itu yang kadang-kadang kurang berperan. Sehingga fenomena motherless ataupun fatherless itu terjadi dan membuat dampak kepada perkembangan anak secara emosional. Adanya perasaan tidak aman atau insecure attachment," lanjutnya.
Selain itu, Sairah menyebut anak yang kekurangan figur ayah rentan mengalami kesulitan dalam meregulasi emosi. Meskipun kepribadian juga ditentukan oleh genetik, pola asuh dan faktor lingkungan juga berperan penting dalam pembentukan karakter anak.
"Kemudian mudah merasa ditolak atau tidak cukup berharga, lalu kesulitan dalam meregulasi emosi. Kemudian secara karakter, nah itu juga. Nah, karakter kalau dibilang kepribadian itu ditentukan tidak hanya genetik tapi juga faktor lingkungan, pola asuh," ujarnya.
Anak yang kekurangan peran ayah atau ibu tersebut akan mencoba mencoba mencari figur pengganti di orang lain. Sairah menyebut jika figur penggantinya tidak sesuai, maka akan memberikan dampak buruk pada anak tersebut.
"Akhirnya ketika dia tidak mendapatkan figur ayah atau figur mama tadi, cenderung mencari figur pengganti. Kalau figur penggantinya tidak pas, malah menjadikan role model yang tidak baik. Kesulitan dalam mempercayai pada orang lain, kemudian terjadinya relasi-relasi yang tidak sehat," jelasnya.
Anak yang kekurangan peran ayah ini akan rentan mengalami kesulitan dalam penyelesaian diri terhadap lingkungan. Hal ini dapat berakibat meningkatkan resiko kenakalan pada remaja.
"Kemudian secara perilaku rentan pada risiko maladjustment atau penyesuaian dirinya terhadap lingkungan, pasangan, tempat kerja maupun teman-teman, itu juga akan menimbulkan dampak-dampak gitu. Karena itu tadi, pentingnya figur bapak maupun figur ibu berperan aktif di dalam rumah sedini mungkin itu bisa meminimalkan risiko-risiko terjadinya kenakalan pada remaja," lanjutnya.
Meskipun begitu, dampak kurangnya figur ayah ini tidak berpengaruh kepada semua individu. Sairah menyebut hal ini tergantung bagaimana seorang anak merespons kondisi tersebut.
"Nggak, meskipun memang berpengaruh itu tergantung individunya bagaimana dia bisa merespons kondisi," ujarnya.
Bagi yang mengalami fenomena 'fatherless', Sairah menyebut bisa mencoba mencari figur pengganti yang tepat seperti keluarga. Meskipun tidak sepenuhnya namun hal ini bisa mencegah terjadinya fenomena yang sama pada generasi selanjutnya.
"Kita sendiri yang berusaha untuk mencari figur pengganti bisa didapatkan dari pamannya, kakeknya yang setidaknya bisa, walaupun nggak bisa menggantikan seratus persen tapi paling nggak figur-figurnya itu bisa dirasakan. Kemudian bisa juga dari kalau yang ini dengan pasangan kalau sudah menikah ya, itu akan lebih oke sehingga traumatic-traumatic masa lalunya itu tidak diturunkan pada anak-anak, tapi bisa diperbaiki," ujarnya.
Selain keluarga, figur pengganti bisa ditemukan di guru atau tokoh inspiratif. Selain mencari figur pengganti, Sairah menyarankan untuk belajar pola relasi yang sehat dan berlatih meregulasi emosi serta komunikasi yang baik.
"Nah, itu pentingnya mencari figur-figur pengganti yang sehat, bisa juga dari guru atau mentor, anggota keluarga, atau tokoh-tokoh inspiratif. Belajar dari pola relasi yang sehat, melatih bagaimana caranya meregulasi emosi, melatih komunikasi asertif," tutupnya.
Artikel ini ditulis oleh Rindi Antika peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom
(nkm/nkm)











































