TNI Kebut Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Aceh Tengah

Aceh

TNI Kebut Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Aceh Tengah

Agus Setyadi - detikSumut
Sabtu, 18 Apr 2026 17:29 WIB
Prajurit TNI mengebut pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah
Foto: Prajurit TNI mengebut pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah (Dok. Korem Lilawangsa)
Aceh Tengah -

Prajurit TNI mengebut pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Desa Reje Payung, Kecamatan Linge, Aceh Tengah untuk membuka keterisolasian warga. Jembatan itu akan menjadi penghubung sejumlah desa di kecamatan tersebut.

Komandan Kodim (Dandim) 0106/Aceh Tengah, Letkol Inf Raden Herman Sasmita, mengatakan, pembangunan jembatan yang dimulai 6 April lalu saat ini sudah memasuki tahap ketiga. Sejumlah pekerjaan tahap awal disebut sudah selesai dikerjakan.

"Pembangunan ini bukan sekadar membuka jalan, tetapi merupakan upaya nyata TNI dalam memperkuat konektivitas antarwilayah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya bagi warga Desa Reje Payung dan Desa Jamat yang dihuni lebih dari 700 jiwa," ujar Raden dalam keterangannya, Sabtu (18/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, pembersihan lokasi dan pemasangan tali poros jembatan sudah selesai 100 persen. Selain itu, penggalian lubang pondasi untuk abutmen A1 dan B1 juga telah masuk tahap pengecoran lantai pondasi.

"Untuk penggalian pondasi abutmen A2 dan B2 saat ini sudah mencapai 85 persen. Hari ini personel di lapangan fokus pada pengikatan besi pondasi, dan rencananya besok akan dilanjutkan dengan tahap pengecoran," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Setelah pondasi rampung, tahap selanjutnya akan difokuskan pada pengecoran abutmen secara menyeluruh, pemasangan pylon, serta perakitan rangka jembatan. Proses pengerjaan melibatkan tim gabungan yakni 5 aggota Koramil 05/Linge, 25 Personel Yon TP 854/DK, 1 personel asistensi Zidam Iskandar Muda, masyarakat setempat dan tenaga tukang ahli.

"Jembatan Perintis Garuda ini dirancang dengan panjang 110 meter dan lebar 1,2 meter. Dengan kapasitas tonase maksimal 1 ton, jembatan ini membentang di atas sungai selebar 90 meter yang memiliki karakteristik debit air fluktuatif," jelasnya.

"Meski cuaca di lokasi kerap mendung pada sore hari, situasi pengerjaan dilaporkan tetap aman dan kondusif. Kehadiran jembatan ini diharapkan menjadi solusi permanen atas keterbatasan akses yang selama ini menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi warga di Kecamatan Linge," lanjut Raden.

Diketahui, akses ke dua itu sempat putus total saat bencana 26 November 2025 lalu. Akses saat ini masih menggunakan jembatan darurat.




(agse/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads