Mencari pekerjaan di zaman sekarang terasa seperti usaha menemukan jarum di dalam tumpukan jerami. Apakah kamu pernah mengalami mengirimkan banyak lamaran namun tak menerima respons? Kamu tidak sendiri. Menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2025, jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7.461.507, ditambah sekitar 3.741.274 orang yang tidak aktif.
Angka yang mencengangkan ini bukan hanya sekadar angka. Pengangguran merupakan masalah sosial yang jika dibiarkan akan merusak struktur kehidupan masyarakat, mulai dari meningkatnya kriminalitas hingga menurunnya kualitas sumber daya manusia (SDM).
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di balik kesulitan dalam mencari pekerjaan? Kenapa di tengah pembangunan gedung-gedung tinggi, mencari posisi pekerjaan justru terasa makin susah?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mari kita analisis faktor-faktor yang menyebabkan tantangan dalam mencari lapangan kerja di Indonesia yang di kutip dari jurnal Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Tenaga Kerja Di Indonesia Tahun 2015-2023 oleh Gelin Ramadani dan Deden Dinar Iskandar dari Universitas Diponegoro.
1. Pengaruh Upah terhadap Permintaan Tenaga Kerja
Salah satu faktor ekonomi yang sering kali luput dari perhatian adalah peran upah. Dalam konteks bisnis, upah merupakan salah satu komponen biaya produksi. Berdasarkan teori ekonomi, terdapat hubungan khas antara gaji dan jumlah pegawai yang dibutuhkan.
Ketika tingkat gaji meningkat secara drastis tanpa diimbangi dengan peningkatan produktivitas, perusahaan cenderung akan mengurangi jumlah pegawai untuk menjaga profitabilitas. Perusahaan akan lebih terbuka untuk merekrut tenaga kerja baru jika biaya tenaga kerja dianggap wajar untuk kelangsungan operasi mereka.
2. Pengaruh (PDRB) Sebagai Penentu
Apakah kamu pernah mendengar tentang istilah PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)? Secara sederhana, PDRB merujuk pada total nilai goods dan services yang dihasilkan di suatu wilayah. Permintaan tenaga kerja bersifat permintaan turunan.
Artinya, kebutuhan akan karyawan baru muncul hanya jika ada banyak orang yang membeli produk atau layanan mereka. Semakin tinggi laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah, semakin banyak orang yang berbelanja, sehingga secara otomatis kebutuhan tenaga kerja untuk memproduksi barang tersebut meningkat.
3. Pentingnya Investasi Nyata
Investasi bukanlah sekadar angka di pasar modal, melainkan alokasi dana untuk mendirikan pabrik, kantor, dan fasilitas produksi lainnya. Semakin banyak dana yang diinvestasikan, semakin tinggi kapasitas produksi negara di masa yang akan datang. Ini secara langsung menghasilkan peluang kerja baru dan meningkatkan pendapatan negara.
4. Tantangan Skill Gap dan Lonjakan Lulusan
Setiap tahun, Indonesia menghasilkan jutaan lulusan dari tingkat SMA hingga universitas. Namun, ada masalah yang muncul, kesenjangan keterampilan. Banyak program studi yang masih lebih fokus pada teori, sementara dunia industri memerlukan kemampuan praktis serta keterampilan sosial seperti pemecahan masalah.
Di era sekarang, kemampuan mengoperasikan komputer saja tidak mencukupi lagi. Keterampilan dalam penggunaan alat kolaborasi digital dan kemampuan berbahasa asing kini menjadi keharusan yang sering tidak dikuasai oleh para pelamar.
5. Ancaman Otomatisasi dan Kecerdasan Buatan
Posisi entry-level seperti administrasi, kasir, dan layanan pelanggan sekarang mulai terancam oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan. Tanpa pelatihan keterampilan yang kreatif dan unik, pencari kerja akan semakin sulit bersaing dengan efisiensi mesin.
Kesulitan dalam mencari pekerjaan di Indonesia saat ini adalah tantangan besar yang dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kebijakan upah, alur investasi, dan disrupsi teknologi. Angka pengangguran yang mencapai jutaan bukan hanya sekadar statistik, tetapi merupakan tanda peringatan bagi kita semua untuk terus menyesuaikan diri.
Pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang mendukung penciptaan lapangan kerja dan pengembangan UMKM. Namun, kita sebagai pencari kerja juga harus proaktif. Dalam kondisi persaingan global yang ketat dan ancaman otomasi, investasi terbaik adalah pada diri sendiri.
Artikel ini ditulis oleh peserta magang Kemnaker, Dwi Puspa Handayani Berutu di detik.com
(afb/afb)











































