Setelah menjalani Prapaskah selama empat puluh hari dengan berpuasa, doa dan pertobatan. Umat Katolik di Gereja Santa Maria Tanpa Noda atau Katedral Medan, melaksanakan Tri Hari Suci dengan khidmat.
Tri Hari Suci dalam Katolik adalah tiga hari paling suci dalam setahun (Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci/Malam Paskah). Selama tiga hari, umat mengenang misteri puncak penebusan sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.
Rangkaian ini dimulai dengan misa petang Kamis Putih dan memuncak pada perayaan malam Paskah dan berakhir pada ibadah sore Minggu Paskah, menandai kemenangan atas dosa dan kematian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Makna mendalam dari Kamis Putih yakni peringatan perjamuan terakhir Yesus berbagi roti dan anggur terakhir kali bersama murid-muridnya. Makna kedua, perintah melayani (pembasuhan kaki).
Pantauan detikSumut di lokasi, Kamis (2/4/2026) Gereja Katedral di Jalan Pemuda, Medan, dipadati jemaat yang akan mengikuti misa. Terlihat umat mengenakan pakaian serba putih.
Terpantau di dalam gereja penuh, aula penuh, gedung serbaguna penuh dan halaman depan gereja juga terisi. Misa Kamis Suci dipimpin oleh Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, O.F.M. Cap. Misa Kamis Putih dimulai ditandai dengan nyanyian dan doa.
Tampak dalam momen tersebut, Iman Uskup membasuh 12 kaki umat sebagai simbol mereka adalah murid-murid Yesus. Satu persatu kaki umat yang duduk di kursi dibasuh oleh Uskup.
Dalam khotbah Uskup Cornelius, ia mengatakan pelaksanaan Hari Kamis Putih atau perjamuan malam terakhir memiliki makna. Makna perjamuan malam terakhir, yakni Yesus sebagai teladan yang telah melayani dan berlutut membasuh muridnya dengan kasih.
"Yesus telah melayani, berlutut dan membuktikan dengan kasih. Saudara-saudari terkasih, apa yang dilakukan Yesus pada malam terakhir sungguh seperti petir menyambar," ucapnya.
Uskup Cornelius juga mengatakan untuk menjadi orang besar seperti Yesus, menjadi besar bukan dilayani tetapi melayani dengan kasih. Tidak hanya itu, menjadi besar seperti Yesus haruslah menaati perintah.
"Sungguh mengejutkan, membekas dalam diri kita, menjadi besar bukan dilayani tapi melayani dan menghormati. Rupanya menjadi besar yakni berlutut dan membasuh sesama. Marilah saudara-saudari memegang perintah dan nasihatnya lakukan lah ini sebagai kenangan akan daku," tandasnya.
Usai misa Kamis Putih, umat melaksanakan Tuguran dalam tradisi Gereja Katolik. Tuguran artinya ibadat berjaga-jaga dan berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus, yang dilakukan pada malam Kamis Putih setelah Misa Perjamuan Tuhan.
Terlihat umat melaksanakan Tuguran sejak dari jam 10.00 - 24.00 WIB dan dilanjutkan hingga subuh sekaligus berjaga-jaga dalam tradisi Katolik.
Dalam misa Kamis Putih, umat juga memperingati ketika Yesus membasuh 12 kaki muridnya yang memiliki makna meneladani kerendahan hati dan kasih. Lalu, makna ketika Yesus memerintahkan para rasul untuk meneruskan perjamuan tersebut sebagai kenangan akan dia.
Makna selanjutnya yakni, Tuguran (Adorasi) artinya setelah misa umat melakukan Tuguran untuk menemani Yesus berdoa di Taman Getsemani (tempat Adorasi) sebelum Yesus ditangkap.
Untuk Kamis Putih, warna liturgi putih artinya melambangkan kemuliaan, sukacita dan cinta kasih.
Simak Video "Menko Hadi Sambangi GPIB Immanuel, Pastikan Jumat Agung Berjalan Aman"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)











































