Ditlantas Polda Aceh mencatat angka kecelakaan lalulintas di Tanah Rencong mengalami penurunan 55 persen selama Operasi Ketupat Seulawah digelar. Namun jumlah korban tewas justru mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu.
"Fatalitas korban mengalami kenaikan dari 15 korban meninggal pada 2025 menjadi 20 korban di tahun 2026. Naik 25 persen," kata Dirlantas Polda Aceh Kombes Deden Supriyatna Imhar kepada wartawan dalam konferensi pers di Banda Aceh, Senin (30/3/2026).
Deden menyebutkan, jumlah kecelakaan selama mudik lebaran dan arus balik sebanyak 47 kasus atau menurun dibandingkan tahun lalu 73 kasus. Jumlah korban yang mengalami luka berat juga disebut mengalami penurunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditlantas mencatat kecelakaan di Aceh umumnya disebabkan kecepatan tinggi serta pengemudi tidak mengenakan helm. Ada sejumlah daerah dengan kasus kecelakaan tertinggi yakni Banda Aceh lima korban tewas, Aceh Jaya dan Aceh Timur masing-masing tiga korban tewas.
"Lokasi yang tidak kita sangka-sangka di Aceh Tenggara. Daerah sepi ada tapi dua orang meninggal dunia," jelas Deden.
Daerah rawan kecelakaan tahun ini disebut berpindah dari Aceh Timur ke Banda Aceh. Deden mengaku bersyukur jumlah kecelakaan mengalami penurunan.
Selain itu, Ditlantas Polda Aceh juga melakukan rekayasa lalu lintas di jembatan Kuta Blang, Bireuen selama mudik dan arus balik. Jembatan di jalan nasional itu putus saat bencana akhir November 2025 dan saat ini dibangun jembatan bailey.
Saat arus mudik, kendaraan dari arah Banda Aceh dapat melewati jembatan Kuta Blang sementara dari arah Medan harus lewati Jembatan Awe Geutah. Sementara ketika arus balik, dilakukan sebaliknya.
"Jembatan Kuta Blang Bireuen menjadi perhatian kita selama Operasi Ketupat Seulawah 2026. Kita melakukan rekayasa lalu lintas untuk mencegah antrean panjang," ujar Deden.
(agse/dhm)











































