Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajukan proposal gencatan senjata kepada Iran guna mengakhiri konflik di Timur Tengah. Proposal tersebut terdiri dari 15 poin dan disampaikan oleh Washington kepada Teheran melalui Pakistan sebagai pihak perantara.
Dirangkum detikcom, Kamis6(25/3/2026), informasi mengenai tawaran tersebut, seperti dilaporkan Reuters dan Associated Press, pertama kali diungkap oleh media ternama AS, New York Times (NYT). Laporan itu mengutip dua pejabat AS yang mengetahui garis besar isi proposal gencatan senjata dari Trump itu terhadap Iran.
Dalam laporannya, NYT menyebutkan bahwa proposal 15 poin itu telah diteruskan kepada pejabat Iran melalui Pakistan. Islamabad juga dikabarkan bersedia menjadi tuan rumah untuk perundingan lanjutan antara Washington dan Teheran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Isi lengkap dari 15 poin rencana gencatan senjata tersebut hingga kini belum dipublikasikan secara rinci kepada publik.
Dalam proposal itu, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner mengusulkan penghentian konflik selama satu bulan. Selama masa tersebut, kedua negara diharapkan melakukan pembahasan lebih lanjut terkait isi perjanjian 15 poin tersebut.
Channel 12 melaporkan sejumlah poin penting dalam rencana itu, termasuk pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah dan Hamas, serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun demikian, menurut laporan The New York Times, belum diketahui apakah Israel memberikan dukungan terhadap proposal tersebut.
Hingga kini, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu belum menyampaikan tanggapan resmi. Associated Press melaporkan bahwa sejumlah pejabat Israel yang sebelumnya mendorong Trump untuk melanjutkan perang dengan Iran justru terkejut dengan langkah AS yang menawarkan gencatan senjata.
Pihak Gedung Putih juga belum memberikan komentar atas berbagai laporan media tersebut.
Meski begitu, Trump sebelumnya telah membicarakan peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat pekan terakhir. Pada Selasa (24/3), Trump mengklaim bahwa AS telah membuat kemajuan dalam upaya negosiasi, termasuk memperoleh konsesi penting dari pihak Teheran.
Sebelumnya, pada hari yang sama, Pakistan juga menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah perundingan antara Washington dan Teheran.
Respons Iran
Pemerintah Iran memberikan tanggapan atas tawaran gencatan senjata dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang bertujuan mengakhiri konflik sejak akhir Februari. Teheran justru menyindir upaya tersebut.
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya militer Iran, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, seperti dilaporkan Associated Press, Rabu (25/3/2026), menyatakan bahwa AS seolah hanya berunding dengan dirinya sendiri.
Pernyataan itu disampaikan melalui video yang ditayangkan televisi pemerintah Iran pada Rabu (25/3) waktu setempat.
"Kekuatan strategis yang dulu Anda bicarakan, telah berubah menjadi kegagalan strategis," kata Zolfaghari dalam pernyataannya yang ditujukan kepada AS.
"Negara yang mengklaim sebagai negara adidaya global pasti sudah keluar dari kekacauan ini jika memang mampu. Jangan menyamarkan kekalahan Anda sebagai kesepakatan. Era janji-janji kosong Anda telah berakhir," tegasnya.
Zolfaghari juga mencemooh Trump dengan menyebutnya bernegosiasi dengan diri sendiri.
"Apakah konflik internal Anda telah mencapai titik di mana Anda bernegosiasi dengan diri Anda sendiri?"
Pernyataan tersebut disampaikan tak lama setelah pemerintahan Trump mengirimkan proposal gencatan senjata 15 poin kepada Iran melalui Pakistan.
"Kata pertama dan terakhir kami masih sama sejak hari pertama, dan akan tetap seperti itu: Orang seperti kami tidak akan pernah berdamai dengan orang seperti Anda. Tidak sekarang, tidak akan pernah," tegasnya.
(nkm/nkm)











































