Ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak setelah Angkatan Laut serta Garda Revolusi Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker di pelabuhan Irak pada Kamis (12/3/2026). Serangan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian aksi militer Iran yang sebelumnya juga menyasar tiga kapal di kawasan Teluk, termasuk kapal barang Thailand dan sebuah kapal kontainer di dekat Uni Emirat Arab.
Dilansir detikFinance dari Reuters, aksi ini ditengarai sebagai bentuk provokasi untuk membantah klaim Presiden AS, Donald Trump, mengenai kemenangan Amerika di wilayah tersebut. Konflik yang melibatkan aliansi AS-Israel melawan Iran ini telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 dan kini meluas ke berbagai negara seperti Irak, Kuwait, UEA, Bahrain, dan Oman serta milisi Hizbullah di Lebanon yang aktif meluncurkan roket ke wilayah Israel.
Perang ini memicu gangguan pasokan energi paling parah dalam sejarah modern. Beberapa dampak signifikan yang terjadi antara lain harga minyak yang melonjak tajam hingga melampaui US$ 100 per barel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iran secara resmi sudah melarang seluruh pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Ancaman keamanan memaksa institusi finansial global bereaksi. Citibank berencana menutup kantor cabang di UEA karena masuk dalam daftar target serangan Iran, sementara HSBC dilaporkan telah menutup operasionalnya di Qatar.
