Anak Kedua Ayatollah Ali Khamenei Terpilih jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Anak Kedua Ayatollah Ali Khamenei Terpilih jadi Pemimpin Tertinggi Iran

Firda Cynthia Anggraini - detikSumut
Senin, 09 Mar 2026 06:30 WIB
(FILES) This handout picture taken in Tehran on October 30, 2024, and provided by the office of Irans supreme leader, shows Mojtaba Khamenei, the son of Irans slain supreme leader Ayatollah Ali Khamenei, who was killed on February 28, 2026 in a US-I
Mojtaba Khamenei (Foto: AFP/-)
Jakarta -

Mojtaba Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang meninggal dunia. Mojtaba Khamenei ini adalah putra kedua dari Ali Khamenei.

Dilansir detikNews dari Aljazeera, Senin (9/3/2026), proses pergantian dilakukan usai Ali Khamenei terbunuh dalam serangan AS dan Israel pada hari pertama. Mojtaba yang disebut-sebut sebagai calon kuat terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru setelah melalui proses di majelis pakar.

Meski tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum, Mojtaba telah menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam pemimpin tertinggi selama beberapa dekade. Hubungannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga terjaga dengan baik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di usai 56 tahun ini, Mojtaba tidak pernah membahas masalah suksesi secara terbuka. Persoalan itu menjadi topik yang sensitif karena kenaikannya ke posisi pemimpin tertinggi akan menciptakan dinasti yang mengingatkan pada monarki Pahlavi sebelum revolusi Islam 1979.

ADVERTISEMENT

Jadi Sasaran Pembunuhan Israel

Sementara itu, Israel menyebut terus memantau pengganti rezim Ali Khamenei. Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, menyebut militer negaranya akan membunuh setiap pemimpin Iran yang ditunjuk untuk menggantikan mendiang Ali Khamenei.

"Setiap pemimpin yang ditunjuk oleh rezim Iran untuk terus memimpin rencana menghancurkan Israel, mengancam AS dan dunia bebas dan negara-negara di kawasan ini, dan menindas rakyat Iran, akan menjadi target yang jelas untuk dieliminasi," tegas Katz dalam pernyataannya, seperti dilansir Al Jazeera, Rabu (4/3).

"Tidak peduli siapa namanya atau di mana dia bersembunyi," imbuhnya.




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads