Di tengah konflik serangan Amerika Serikat (US) dan Israel terhadap Iran yang menggemparkan dunia internasional. Tahukah kamu bahwa negara Iran memiliki sejarah yang panjang? Yuk simak artikel ini.
Dikutip dari jurnal penelitian yang berjudul "Sejarah Perkembangan Islam di Iran" oleh Muhammad Rais, peradaban awal utama yang terjadi pada daerah yang sekarang menjadi negara Iran adalah kaum Elarnit, yang bermukim di daerah Barat Daya Iran sejak tahun 3000 SM.
Pada tahun 1500 SM, bangsa Arya yang terdiri dari suku Persia dan suku Medes mulai bermigrasi ke Iran. Satu kelompok bermukim di daerah Barat Laut dan mendirikan kerajaan Media dan kelompok lain hidup di Iran Selatan, daerah yang kemudian disebut sebagai Persis (asal usul nama Persia) oleh orang Yunani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada tahun 600 SM suku Medes telah menjadi penguasa Persia, akan tetapi sekitar tahun 550 SM bangsa Persia yang dipimpin oleh Cyrus berhasil menggulingkan kerajaan Medes dan membentuk kerajaan Achaemenid.
Namun, pada tahun 1331 SM Alexander dari Macedonia berhasil menaklukkan kerjaan Achaemenid dan menjadi tragedi besar bagi bangsa Iran pada saat itu. Akan tetapi Alexander berhasil digulingkan oleh orang Persia dan mendirikan Kerajaan Ikhaniyah, di masa-masa selanjutnya kemudian berdiri kerajaan Safawi.
Kerajaan Safawi adalah penganut paham Syiah yang menjadikan Iran pada saat itu menjadi negara Syiah. Dalam hal ini, Iran menjadi negara Syiah Itsna Asyariah. Pada periode Safawi, ulama tampil sebagai kekuatan sosial yang penting.
Namun setelah kerajaan ini runtuh, tahun 1722, berdiri lagi Dinasti Zand meskipun tidak lama (1750-1779), yang kemudian digantikan Dinasti Qajar (1785-1925), dan di mana itu kekuasaan ulama kian penting pada era Qajar.
Setelah Qajar, berdiri rezim Pahlawiyah, dan pada akhir abad ke-19, ulama menjadi pelaku utama dalam gerakan dan lembaga sosial negeri ini yang pada gilirannya terbentuklah Republik Iran.
Peresmian Nama Persia Menjadi Iran
Dari masa lalu sampai berdirinya Kerajaan Safawi, Iran dikenal dengan nama Persia, dan dalam sejarah dikatakan bahwa pada tahun 1935 berubah nama menjadi Iran di bawah kepemimpinan Reza Shah Pahlavi. Sejak saat itu, nama Iran mulai digunakan secara diplomatik dan diperkenalkan secara internasional.
Pemerintah Iran kala itu mengajukan permintaan perubahan nama ke seluruh kedutaan asing, serta persetujuan untuk kembali menggunakan identitas internal dengan bahasa lokal Iran. Bukan sekadar berganti nama, langkah ini adalah bentuk deklarasi kedaulatan wilayah.
Dengan perubahan nama tersebut, Iran menghidupkan lagi peradaban linguistik dan budaya mereka ribuan tahun lalu. Langkah ini sekaligus bentuk penolakan tegas terhadap klaim asing yang memberi nama negara tersebut dengan istilah luar.
Kendati demikian, Persia belum sepenuhnya hilang dari kosakata dunia setelah deklarasi 1935. Hingga saat ini, nama tersebut masih dikenal sebagai bagian dari budaya dan romantisme sejarah.
Pemerintahan Pahlavi tidak melarang total penggunaan istilah Persia secara nonformal. Keduanya boleh digunakan. Karena identitas politik dan hukum negara, namanya secara resmi tetap Iran.
Kemudian setelah revolusi pada tahun 1979, Iran berganti nama menjadi Republik Islam Iran dan bertransisi dari monarki kekaisaran ke negara republik Islam. Hal ini dipicu oleh penggulingan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeni.
Artikel ini ditulis oleh Eme Arapenta Tarigan, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.
(afb/afb)











































