GPIB Immanuel Medan dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah sekaligus gereja tertua di Kota Medan yang masih berdiri dan aktif digunakan hingga sekarang.Yang berlokasi di Jl. Pangeran Diponegoro No.25-27, Madras Hulu, Kec. Medan Polonia, Kota Medan, Sumatera Utara.GPIB Immanuel Medan telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah perkembangan Kota Medan sejak era kolonial Belanda.
Pada awal pendiriannya, gereja tersebut bernama Indische Kerk atau Staatskerk. Bangunan ini digunakan sebagai tempat ibadah bagi masyarakat Protestan Belanda, termasuk kalangan pejabat pemerintahan kolonial serta tentara KNIL yang bertugas di wilayah Sumatera Timur.
Pendeta GPIB Immanuel Medan, Johny Alexander Lontoh, menjelaskan bahwa berdasarkan arsip Staatsblad Pemerintah Hindia Belanda tahun 1912 Nomor 497, gereja tersebut diperkirakan mulai dibangun sekitar tahun 1912. Namun, beberapa sumber sejarah menyebutkan keberadaan gereja kemungkinan telah dimulai sejak awal 1900-an, yang diperkuat oleh keberadaan lonceng gereja produksi Amsterdam pada masa tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berdirinya gereja ini berkaitan erat dengan pertumbuhan pesat Kota Medan setelah pusat pemerintahan Residen Sumatera Timur, yang dipindahkan dari Bengkalis ke Medan pada tahun 1886. Perpindahan tersebut mendorong pembangunan berbagai fasilitas modern, termasuk sarana peribadatan," ujar Pendeta GPIB Immanuel Medan, Johny Alexander Lontoh,Jumat (27/2/2026).
Pdt.Johny mengatakan,secara arsitektur, bangunan gereja mengadopsi gaya Renaissance khas Eropa yang terlihat dari menara menjulang tinggi, keberadaan jam besar, serta lonceng gereja yang suaranya dapat terdengar hingga radius kurang lebih tiga kilometer dari lokasi.
"Dalam perjalanan kelembagaannya, gereja ini resmi bergabung dengan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) pada 31 Oktober 1948, seiring reorganisasi gereja Protestan di Indonesia setelah kemerdekaan. Perubahan tersebut menandai transformasi dari gereja kolonial menjadi gereja nasional yang melayani jemaat dari berbagai latar belakang etnis di wilayah Indonesia Barat," katanya.
Pdt. Johny menambahkan, bahwa GPIB Immanuel Medan menjadi titik awal pertumbuhan jemaat GPIB di Kota Medan dan daerah sekitarnya. Dari gereja inilah kemudian lahir sejumlah jemaat GPIB lainnya di Medan maupun wilayah sekitar.
Saat ini, GPIB Immanuel Medan tidak hanya berperan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pelayanan sosial bagi masyarakat. Jumlah jemaat diperkirakan mencapai lebih dari 3.000 orang dengan latar belakang budaya dan suku yang beragam.
Lebih dari sekadar rumah ibadah, gereja ini menjadi simbol toleransi, keberagaman, dan warisan sejarah Kota Medan. Di tengah perkembangan kota yang semakin modern, bangunan bersejarah ini tetap mempertahankan nilai historisnya sebagai peninggalan kolonial yang terus hidup dan melayani masyarakat hingga kini.
Karena nilai sejarah dan arsitekturnya yang tinggi, bangunan GPIB Immanuel Medan telah ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya Kota Medan, menjadikannya saksi perjalanan panjang kota dari masa kolonial hingga era modern saat ini.
Artikel Ini Ditulis Olivia Andrea, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.
(afb/afb)











































