Ratusan warga Kecamatan Medan Belawan mulai mengumpulkan sampah untuk ditabung menjadi uang. Sebanyak 1,1 ton sampah berhasil dikumpulkan oleh total 400 warga yang tersebar di berbagai kelurahan di Kecamatan Medan Belawan.
Pengumpulan sampah ini nantinya akan ditabung di Bank Sampah Berkah atau BSB yang berada di bawah binaan Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) Kota Medan. Untuk memperluas jumlah nasabah bank sampah, GNI mengadakan kegiatan cek kesehatan gratis yang bisa diikuti dengan menukar sampah yang sudah dikumpulkan.
"Saat ini total nasabah BSB sudah mencapai 600 orang. Kami mengadakan kegiatan cek kesehatan gratis untuk memperluas jumlah nasabah, agar semakin banyak warga yang sadar untuk memilah dan mengelola sampahnya di bank sampah," ujar Project Manager GNI Medan, Anwar Suhut saat diwawancarai, Sabtu (14/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anwar menjelaskan, para nasabah dapat menukarkan sampahnya dalam bentuk uang atau sembako dan biaya sekolah anak. Ia menyebut, dari total 400 peserta yang mengikuti cek kesehatan gratis, 70 persen di antaranya merupakan nasabah baru BSB.
"Sekitar 70 persen itu nasabah baru. Jadi saat dia menyetor sampahnya ke bank sampah, saat itu juga kita daftarkan menjadi nasabah baru. Kita berharap semakin banyak warga yang sadar untuk mengelola sampahnya," ungkapnya.
Seorang warga, Yani yang ikut menukarkan sampahnya mengaku senang bisa mengikuti cek kesehatan gratis. Ia telah mengumpulkan sampah berupa kardus, botol, dan sampah rumah tangga ke posyandu.
"Sampah yang saya kumpulkan ditimbang dan ditukar dengan sembako terus saya dapat pemeriksaan kesehatan gratis. Ya saya senang akhirnya tahu kondisi kesehatan saya," katanya.
Mengetahui manfaat menabung di bank sampah, Yani mengaku ingin mengumpulkan lebih banyak sampah hasil konsumsi rumah tangganya.
"Daripada sampahnya dibuang sia-sia, lebih baik ditukarkan jadi sesuatu yang bermanfaat. Ke depan, saya akan menabung lebih banyak sampah," katanya.
Ditiru di Filipina
Kegiatan cek kesehatan gratis yang digelar di Posyandu Belawan ini menarik perhatian delegasi Good Neighbors Filipina yang datang khusus mempelajari sistem tata kelola sampah berbasis komunitas.
Project Fasilitator Good Neighbors Philippines, Dexter L. Difuntorum mengatakan, model kolektif yang melibatkan berbagai pihak menjadi penting untuk keberlanjutan program bank sampah. Ia melihat, berbagai pihak ikut serta dalam kegiatan di antaranya kader posyandu, dokter klinik swasta, tim GNI, hingga pengurus BSB.
"Ini sangat strategis dan unik. Saya belum pernah melihat posyandu dijadikan titik kumpul pengelolaan sampah. Dampaknya jelas dan memudahkan masyarakat," kata Dexter.
Dexter mengatakan, pengalaman ini membuatnya ingin meniru program serupa di Filipina. "Ini Insightful. Kami ingin mencoba menerapkan hal serupa di Filipina, membuka bank sampah, dan menggerakkan masyarakat seperti ini," ungkapnya.
Project Facilitator GNI Medan, Nelli Lumbanbatu menjelaskan, posyandu difungsikan sebagai titik kumpul sampah rumah tangga, ruang edukasi masyarakat serta penghubung warga dengan bank sampah.
"Keunggulan sistem ini adalah skalanya yang kolektif dan masif, sehingga dampaknya jauh lebih besar dibanding pendekatan konvensional. Posyandu yang tersebar di hampir setiap lingkungan memudahkan warga menabung sampah, sekaligus menerima layanan kesehatan," jelasnya.
Ia menambahkan, proses pencatatan, penimbangan, dan penukaran sampah dengan sembako berjalan sistematis, melibatkan gotong royong dan fasilitator GNI.
"Warga yang datang tidak hanya menukar sampah dengan sembako, tetapi juga menjalani pemeriksaan kesehatan yang meliputi gigi, mata, kulit, gula darah, tensi, dan asam urat. Anak-anak diperiksa tinggi badan, sementara ibu-ibu mendapat penyuluhan gizi," tutupnya.
