Kertas daluang menjadi salah satu jejak penting tradisi literasi masyarakat Nusantara sebelum hadirnya kertas modern. Berasal dari bahan alami, daluang dimanfaatkan sebagai media tulis pada masa lampau, terutama dalam penulisan naskah-naskah keislaman yang berkembang seiring masuknya Islam ke Nusantara.
Dalam jurnal berjudul "Daluang Sebagai Alat Tulis dalam Penyebaran Islam di Nusantara" karya Agus Permana dan Mardani, dijelaskan bahwa bahan dasar daluang berasal dari kulit pohon. Mereka menyebutkan bahwa, daluang merupakan kertas yang dibuat dari kulit pohon.
"Adapun jenis pohon yang digunakan antara lain pohon saeh atau paper mulberry serta beringin putih, yang seratnya dapat diolah menjadi lembaran kertas," tulisnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menariknya, daluang pada awalnya tidak berfungsi sebagai alas tulis. Sebelum dikenal sebagai media menulis, bahan ini justru digunakan sebagai sandang.
Dalam penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa daluang sebelumnya digunakan sebagai bahan pembuatan pakaian.
"Pada mulanya, daluang bukan digunakan sebagai alas tulis, melainkan sebagai bahan pembuatan pakaian, terutama bagi para pendeta Hindu," lanjutnya.
Tradisi pemanfaatan kulit pohon sebagai bahan pakaian juga ditemukan di berbagai komunitas tradisional Nusantara.
Perubahan fungsi daluang terjadi seiring masuknya Islam yang membawa tradisi tulis-menulis lebih intens. Proses penyebaran Islam berlangsung dengan cara mengadaptasi budaya lokal, termasuk dalam pemanfaatan daluang.
"Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ada, kertas daluang banyak digunakan untuk menulis naskah-naskah keislaman," demikian tulis jurnal tersebut.
Naskah-naskah tersebut menjadi sumber penting dalam memahami perkembangan keilmuan dan dakwah Islam di Nusantara. Contoh kertas daluang ini dapat ditemukan di Museum Sejarah Al Qur'an Sumatera Utara.
Keberadaan daluang menunjukkan bahwa proses akulturasi budaya di Nusantara berjalan secara alami. Dari bahan pakaian hingga menjadi media ilmu pengetahuan, kertas daluang mencerminkan kreativitas masyarakat tempo dulu dalam menyesuaikan tradisi dengan perubahan zaman.
Artikel ini ditulis Siti Asyaroh, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom.
(afb/afb)











































