Kapan Puasa Ramadan Pertama Kali Diwajibkan? Ini Sejarah dan Dalilnya

Kapan Puasa Ramadan Pertama Kali Diwajibkan? Ini Sejarah dan Dalilnya

Aisyah Luthfi - detikSumut
Kamis, 12 Feb 2026 22:40 WIB
Ramadan Kareem photography, Lantern with crescent moon shape on the beach with sunset sky, 2024 Eid Mubarak  greeting background
Foto: Getty Images/sarath maroli
Medan -

Puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat. Namun, tahukah detikers kapan pertama kali ibadah ini disyariatkan?

Mengutip buku Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan karya Ahmad Sarwat Lc., dijelaskan bahwa kewajiban berpuasa Ramadhan tidak terlepas dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Ibadah ini pertama kali disyariatkan pada tahun kedua Hijriah, tepatnya pada hari Senin tanggal 10 Syaban.

Perintah ini turun setelah adanya perintah pengalihan kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Sejak saat itu hingga akhir hayatnya, Rasulullah SAW tercatat telah melaksanakan puasa Ramadhan sebanyak sembilan kali dalam sembilan tahun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalil Wajib Puasa Ramadan dalam Al-Qur'an

Kewajiban berpuasa Ramadhan memiliki landasan hukum yang sangat kuat, bersumber dari Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Ijma ulama. Setidaknya terdapat empat ayat dalam Surat Al-Baqarah yang membahas secara rinci tentang perintah ini, yaitu ayat 183, 184, 185, dan 187. Berikut adalah penjabaran dalil-dalil tersebut:

1. Surat Al-Baqarah Ayat 183: Perintah Wajib

ADVERTISEMENT

Ayat ini adalah dalil utama diwajibkannya puasa. Kalimat kutiba 'alaikum (diwajibkan atas kamu) memiliki makna yang sama dengan fardhu.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

Latin: yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba 'alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba 'alalladzîna ming qablikum la'allakum tattaqûn

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

2. Surat Al-Baqarah Ayat 184: Keringanan (Rukhsah)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa dilakukan pada hari-hari tertentu di bulan Ramadhan. Allah SWT memberikan keringanan bagi orang yang sakit atau musafir (dalam perjalanan) untuk tidak berpuasa, namun wajib menggantinya di hari lain. Bagi yang berat menjalankannya (seperti lansia renta), diwajibkan membayar fidyah. Berikut bunyinya:

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ۝١٨٤

Latin: ayyâmam ma'dûdât, fa mang kâna mingkum marîdlan au 'alâ safarin fa 'iddatum min ayyâmin ukhar, wa 'alalladzîna yuthîqûnahû fidyatun tha'âmu miskîn, fa man tathawwa'a khairan fa huwa khairul lah, wa an tashûmû khairul lakum ing kuntum ta'lamûn

Artinya: (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

3. Surat Al-Baqarah Ayat 185: Keistimewaan Ramadhan

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٨٥

Latin: syahru ramadlânalladzî unzila fîhil-qur'ânu hudal lin-nâsi wa bayyinâtim minal-hudâ wal-furqân, fa man syahida mingkumusy-syahra falyashum-h, wa mang kâna marîdlan au 'alâ safarin fa 'iddatum min ayyâmin ukhar, yurîdullâhu bikumul-yusra wa lâ yurîdu bikumul-'usra wa litukmilul-'iddata wa litukabbirullâha 'alâ mâ hadâkum wa la'allakum tasykurûn

Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari (yang ditinggalkannya) pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.

Ayat di atas menjelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Oleh karena itu, siapa pun yang menjumpai bulan ini dalam keadaan sehat dan mukim (tidak bepergian), maka ia wajib berpuasa.

4. Surat Al-Baqarah Ayat 187: Larangan & Kebolehan

Ayat ini mengatur teknis pelaksanaan puasa, seperti larangan makan, minum, dan berhubungan suami istri di siang hari, serta kebolehannya di malam hari hingga terbit fajar. Berikut bunyinya:

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ ۝١٨٧

Latin: uḫilla lakum lailatash-shiyâmir-rafatsu ilâ nisâ'ikum, hunna libâsul lakum wa antum libâsul lahunn, 'alimallâhu annakum kuntum takhtânûna anfusakum fa tâba 'alaikum wa 'afâ 'angkum, fal-âna bâsyirûhunna wabtaghû mâ kataballâhu lakum, wa kulû wasyrabû ḫattâ yatabayyana lakumul-khaithul-abyadlu minal-khaithil-aswadi minal-fajr, tsumma atimmush-shiyâma ilal-laîl, wa lâ tubâsyirûhunna wa antum 'âkifûna fil-masâjid, tilka ḫudûdullâhi fa lâ taqrabûhâ, kadzâlika yubayyinullâhu âyâtihî lin-nâsi la'allahum yattaqûn

Artinya: Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.

Syarat Wajib dan Syarat Sah Puasa

Agar ibadah puasa diterima, seorang muslim harus memenuhi syarat wajib dan syarat sah. berikut rinciannya:

Syarat Wajib Puasa

1. Beragama Islam

2. Berakal (tidak gila)

3. Baligh (sudah cukup umur)

4. Sehat jasmani

5. Bukan musafir (menetap)

6. Suci dari haid dan nifas (bagi wanita)

7. Mampu melaksanakan puasa satu bulan penuh

Syarat Sah Puasa (Agar Puasa Diterima)

1. Beragama Islam

2. Berniat (melakukan niat puasa)

3. Suci dari haid dan nifas

4. Melakukan puasa di waktu yang diperbolehkan (bukan hari yang diharamkan)

Ancaman Bagi yang Meninggalkan Puasa

Mengingat statusnya sebagai rukun Islam, meninggalkan puasa Ramadhan tanpa alasan syar'i (uzur) adalah dosa besar. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ فِى غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ لَمْ يَقْضِ عَنْهُ وَإِنْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

Artinya: "Barangsiapa tidak puasa satu hari di bulan Ramadhan tanpa adanya uzur atau keringanan yang Allah SWT berikan kepadanya, maka tidak akan bisa ia menjadi ganti puasa yang dia tinggalkan dengan sengaja itu, meskipun dia berpuasa selama satu tahun." (HR Abu Hurairah).

Dengan memahami sejarah dan dalil-dalil di atas, semoga kita dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tahun ini dengan lebih maksimal, ikhlas, dan penuh ketakwaan. Selamat menyambut Ramadhan 2026, detikers!




(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads