Indonesia memang kaya akan budaya, dan salah satu keajaiban tersembunyi di Sumatera Utara adalah Suku Pakpak. Jika kamu sedang belajar tentang budaya setempat, kamu pasti sering mendengar istilah Pakpak Silima Suak. Tapi, sebenarnya apa sih artinya?
Dilansir dalam skripsi oleh Banurea tahun 2025, berjudul "Perbedaan Bahasa Pakpak Dialek Suak Simsim Dan Dialek Suak Kelasen Di Kabupaten Pakpak Bharat Sumatera Utara", secara sederhana, kata "Suak " dalam bahasa Pakpak merujuk pada pembagian wilayah atau kelompok masyarakat. Jadi, Pakpak Silima Suak menjelaskan bahwa suku Pakpak terbagi menjadi lima wilayah sub-etnis utama.
Uniknya, meski merupakan satu suku, setiap daerah ternyata memiliki warna bahasa atau dialek yang berbeda-beda, lho! Mari kita intip persebaran lima Suak ini agar kamu punya gambaran lebih jelas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suak Pegagan: Menetap di wilayah Sumbul, Pegagan Hilir, dan sekitarnya di Kabupaten Dairi.
Suak Keppas: Komunitas ini tersebar di Sidikalang hingga Siempat Rube, Kabupaten Dairi.
Suak Simsim: Ini adalah komunitas utama di Kabupaten Pakpak Bharat.
Suak Kelasen: Uniknya, Suak ini berada di wilayah administrasi Kabupaten Humbang Hasundutan, tepatnya di Parlilitan dan Tarabintang.
Suak Boang: Suak ini melintasi batas provinsi dan bermukim di Aceh Singkil serta Subulussalam.
Keberagaman wilayah tersebut bukan hanya garis di peta, tetapi mencerminkan sejarah perpindahan orang dan perubahan sosial yang sangat banyak dan kaya. Meski memiliki akar yang sama, setiap suak memiliki bahasa yang unik, sempit, namun menarik . Salah satu hal yang sering menjadi perhatian adalah perbedaan antara Suak Simsim dan Suak Kelasen.
Karena adanya faktor perpindahan penduduk dan perkawinan silang terutama dari Parlilitan ke Pakpak Bharat terjadi percampuran kosakata yang unik. Yuk, lihat perbedaannya:
Kosakata: Untuk menyebut "Pagi", orang Simsim bilang /cegen/, sementara orang Kelasen bilang /kusiang/. Kalau mau tanya "Bagaimana?", di Simsim kamu gunakan /bakune/, tapi di Kelasen pakainya /katera/.
Ada juga perbedaan bunyi vokal. Contohnya kata "Sedikit". Di Simsim disebut /cituk/, sedangkan di Kelasen bunyinya menjadi /citok/. Perubahan vokal [u] menjadi [o] ini memberi irama yang berbeda saat didengar.
Mengenali perbedaan dialek dalam Pakpak Silima Suak tidak hanya tentang belajar berbicara, tetapi juga tentang menjaga kebudayaan tetap hidup. Di tengah perkembangan zaman yang terus berkembang, pemahaman dan pengucapan bahasa daerah merupakan identitas yang sangat berharga dan tidak tergantikan.
Kita juga harus mengerti tentang pembagian wilayah dalam suku Pakpak. Dengan memahami perbedaan kecil tapi penting ini , kita bisa lebih menghargai betapa luasnya kekayaan intelektual bangsa kita. Jadi, dialek mana yang paling menarik untuk dipelajari?
Artikel ini ditulis oleh peserta magang Kemnaker, Dwi Puspa Handayani Berutu di detikcom
(nkm/nkm)











































