Bulan Ramadan selalu menjadi momen yang paling ditunggu oleh seluruh umat Islam di seluruh Indonesia, termasuk di Sumatera Utara (Sumut). Bukan hanya sekadar mempersiapkan diri agar bisa fokus beribadah, namun juga dimanfaatkan untuk melakukan tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun.
Tradisi-tradisi yang ada biasa dilakukan untuk menyambut bulan Ramadan. Selain mempunyai makna religius, tradisi yang ada juga menunjukkan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang beragam di tengah masyarakat Sumut.
Berikut beberapa tradisi masyarakat di Sumut dalam menyambut bulan suci Ramadan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Marpangir
Marpangir atau Mandi Pangir adalah tradisi mandi menggunakan bahan ramuan yang bertujuan untuk menyucikan diri menjelang Ramadan. Tradisi ini masih terus dilestarikan sampai sekarang oleh masyarakat etnis Mandailing, seperti yang bermukim di Asahan dan Mandailing Natal.
Dikutip dari jurnal penelitian berjudul "Nilai-Nilai Sosial Tradisi Marpangir dalam Menyambut Bulan Suci Ramadhan di Desa Teluk Panji Kecamatan Kampung Rakyat Kabupaten Labuhan Batu Selatan" oleh Susanti dkk.
Proses Marpangir tidak menggunakan wangi-wangian dari sampo ataupun sabun. Melainkan menggunakan dedauan atau rempah khusus yang disebut 'pangir', seperti daun jeruk, jeruk purut, daun pandan, daun nilam, bungan pinang, serai wangi, dan juga sitanggis.
Masyarakat percaya bahwa seluruh bahan-bahan pangir dapat memberikan aroma yang menenangkan, menyegarkan, dan menyejukkan jiwa karena setiap bahan pangir merupakan simbol pengharapan dan juga doa.
2. Punggahan
Tradisi punggahan adalah tradisi yang dapat ditemui hampir di seluruh pelosok Sumut. Tradisi ini berupa makan bersama sebagai bentuk syukur karena diberi kesempatan bertemu di bulan Ramadan dan mempererat hubungan masyarakat sambil mendoakan orang-orang yang sudah meninggal.
Dikutip dari jurnal penelitian berjudul "Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Punggahan Ramadhan" oleh Surawardi, dalam tradisi makan bersama, ada beberapa makanan yang selalu disajikan dan memiliki makna, seperti ketan, apem, pisang, dan makanan yang berbentuk kerucut.
3. Ziarah
Menjelang Ramadan, tradisi ziarah kubur juga menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Muslim di Sumut. Dikutip dari jurnal penelitian berjudul "Makna Tradisi Bulan Ramadhan di Kehidupan Masyarakat Lombok NTB" oleh Aulia Iswaratama tradisi 'nyekar' atau ziarah kubur adalah tradisi mengirimkan doa untuk anggota keluarga yang sudah meninggal.
Di momen sebelum Ramadan, keluarga akan berbondong-bondong mengunjungi makam orang tua atau kerabat untuk mendoakan mereka yang sudah meninggal. Selain itu ziarah kubur memiliki makna mendalam sebagai pengingat akan hidup yang sementara dan pentingnya memperbaiki diri.
4. Pawai Obor
Di lingkungan masyarakat Muslim di Sumut, tradisi mengaji bersama dan pawai obor masih terus dilestarikan sebagai pertanda datangnya bulan suci Ramadan. Anak-anak dan remaja akan berjalan berkeliling kampung sambil membawa obor dan melantunkan sholawat atau takbir.
Pawai obor juga menjadi simbol cahaya iman yang menerangi kehidupan masyarakat selama bulan suci Ramadan. Dikutip dari jurnal penelitian yang berjudul "Upaya Meningkatkan Gairah Keagamaan Melalui Pendampingan Kegiatan Perayaan Tahun Baru Islam" oleh Aini dkk, tradisi ini memiliki nilai edukatif, religius, dan juga mempererat hubungan sosial antarwarga.
Nah, itu dia 4 tradisi yang biasanya dilakukan masyarakat Muslim di Sumut dalam menyambut bulan suci Ramadan. Semoga bermanfaat, ya!
Artikel ini ditulis oleh Eme Arapenta Tarigan, Peserta Program Maganghub Kemnaker di detikcom
(mjy/mjy)











































