UMKM dan Tantangan Digital: Ujian Nyata bagi Bank Sumut

UMKM dan Tantangan Digital: Ujian Nyata bagi Bank Sumut

Kartika Sari - detikSumut
Selasa, 03 Feb 2026 18:01 WIB
UMKM dan Tantangan Digital: Ujian Nyata bagi Bank Sumut
Foto: Kantor Bank Sumut di Kota Medan. (Dok. Bank Sumut)
Medan -

UMKM terus dipuji sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Namun pujian itu akan kehilangan makna ketika pelaku usaha tertinggal dalam arus digitalisasi. Di tengah perubahan cara berjualan dan bertransaksi, UMKM yang tidak beradaptasi berisiko kalah bukan karena produknya buruk, melainkan karena caranya sudah usang.

Digitalisasi UMKM telah lama menjadi agenda pemerintah dan perbankan. Tujuannya jelas, memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, di banyak daerah, termasuk Sumatera Utara, transformasi ini masih berjalan tertatih. Potensi besar belum sepenuhnya bertemu dengan kesiapan teknologi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut tahun 2024 mencatat, usaha atau perusahaan industri pengolahan mikro dan kecil yang telah memanfaatkan internet berjumlah 56.295 usaha. Di sisi lain, masih ada 67.616 usaha yang belum memaksimalkan penggunaan internet. Pemanfaatannya pun belum merata, mulai dari pemasaran produk sebanyak 44.387 usaha hingga pembayaran transaksi sebanyak 12.467 usaha.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih jauh, alasan pelaku usaha tidak memanfaatkan internet menunjukkan persoalan mendasar. Sebanyak 46.269 usaha menyebut internet tidak diperlukan, sementara 11.308 usaha mengaku tidak tahu cara menggunakannya. Angka ini menegaskan bahwa tantangan digitalisasi UMKM bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan literasi dan pendampingan.

Kondisi tersebut membuat peran perbankan menjadi sangat strategis. Khususnya Bank Sumut, sebagai bank pembangunan daerah yang dekat dengan pelaku usaha lokal. Digitalisasi UMKM membutuhkan aktor yang bukan hanya menyediakan layanan, tetapi juga hadir mendampingi proses perubahan.

ADVERTISEMENT

Pendampingan UMKM berbasis digital memang telah banyak dilakukan sektor perbankan. Namun Bank Sumut memiliki keunggulan sebagai "tuan rumah" yang mampu menjangkau pelaku usaha hingga ke pelosok. Contoh konkret terlihat saat Bank Sumut melakukan sosialisasi pembayaran digital dan kredit produktif kepada pelaku usaha homestay di Samosir pada Oktober 2025. Tidak berhenti pada sosialisasi, Bank Sumut juga memfasilitasi UMKM untuk masuk ke platform e-commerce agar dapat menembus pasar yang lebih luas.

Langkah ini penting agar UMKM tidak terjebak dalam gagap teknologi. Jangan sampai pelaku usaha bertahan di toko fisik yang sepi, sementara pola belanja konsumen telah bergeser ke ruang digital. Digitalisasi bukan soal meninggalkan cara lama, melainkan membuka peluang baru agar UMKM tetap relevan.

Meski demikian, literasi digital UMKM di Sumut masih rendah. Bahkan Gubernur Sumut Bobby Nasution pernah menyampaikan bahwa baru 19 persen UMKM di Sumut yang mulai menggunakan teknologi dan hanya 3 persen yang terhubung dalam ekosistem digital. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi digital belum menyentuh mayoritas pelaku usaha.

Pengetahuan tentang pemasaran digital, metode penjualan, hingga sistem pembayaran masih terbatas. Jika kondisi ini dibiarkan, ekosistem digital UMKM berpotensi macet. Padahal, dengan pendampingan yang konsisten, perubahan bisa terjadi secara bertahap. Paling tidak, UMKM perlu memahami cara memasarkan produknya secara langsung di ruang digital.

Karena itu, peran Bank Sumut tidak boleh berhenti di tahap sosialisasi. Perbankan daerah perlu membangun ekosistem yang utuh, mulai dari pengenalan, pendampingan, implementasi, hingga evaluasi. Tanpa proses berkelanjutan, digitalisasi UMKM berisiko menjadi program seremonial yang tidak meninggalkan dampak nyata.

Ruang tersebut dapat diperkuat melalui program tanggung jawab sosial perusahaan. Bank Sumut memiliki peluang besar memanfaatkan CSR untuk pelatihan UMKM, termasuk di pasar tradisional, agar mampu merambah pasar nasional hingga internasional. Digitalisasi seharusnya menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar simbol modernisasi.

Upaya Bank Sumut menghadirkan daftar UMKM binaan melalui kanal Pojok UMKM di situs resminya patut diapresiasi. Fitur ini memudahkan masyarakat melihat UMKM dari berbagai daerah, lengkap dengan alamat dan kontak, seperti UMKM Tenun Bona Jaya di Deli Serdang hingga usaha gerabah Karya Cipta Lestari. Langkah ini tidak hanya mengenalkan teknologi, tetapi juga membangun rasa keterlibatan pelaku usaha.

Namun konsistensi menjadi kunci. Pojok UMKM perlu rutin diperbarui dan diperluas agar benar-benar menjadi rujukan masyarakat, bukan sekadar etalase digital yang sepi interaksi.

Digitalisasi UMKM juga tercermin dari pengembangan layanan Bank Sumut, seperti New Sumut Mobile dan Sumut Merchant. Kehadiran aplikasi ini memudahkan pelaku usaha memantau transaksi secara real time. Namun, teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif tanpa pendampingan yang memadai.

Di sisi lain, digitalisasi UMKM tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada perbankan. Sinergi dengan pemerintah daerah menjadi keharusan. Kolaborasi Bank Sumut dengan dinas terkait, koperasi, dan UMKM binaan dapat membentuk ekosistem digital yang berkelanjutan.

Keterlibatan Bank Sumut dalam mendukung Koperasi Desa Merah Putih, khususnya dalam permodalan dan pengajuan pembiayaan secara digital, berpotensi menjadi penggerak ekonomi lokal. Program ini tidak hanya mempermudah akses pembiayaan, tetapi juga dapat berperan sebagai fasilitator pemasaran UMKM.

Ketika akses digital terbuka dan pembiayaan berjalan lancar, predikat UMKM sebagai tulang punggung perekonomian tidak lagi sekadar slogan. Pelaku usaha memiliki informasi harga, pembeli yang lebih beragam, serta nilai tambah yang lebih adil. Ketimpangan antara produsen dan distributor perlahan dapat ditekan.

Di sinilah makna sinergi Bank Sumut dalam membangun ekonomi digital Sumatera Utara. Bukan sekadar menghadirkan aplikasi dan transaksi digital, melainkan memastikan teknologi benar-benar menjadi jalan bagi UMKM daerah untuk naik kelas dan bertahan di tengah perubahan zaman.




(ksr/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads