3 Peristiwa Besar dalam Sejarah Bulan Syaban yang Kerap Terlupakan

3 Peristiwa Besar dalam Sejarah Bulan Syaban yang Kerap Terlupakan

Aisyah Luthfi - detikSumut
Sabtu, 31 Jan 2026 11:07 WIB
Ilustrasi bulan Syaban
Foto: Ilustrasi. (Gemini AI)
Medan -

Bulan Syaban seringkali disebut sebagai bulan yang "terjepit". Posisinya yang berada di antara dua bulan mulia, yakni Rajab dan Ramadan, membuatnya kerap kurang mendapat perhatian.

Di bulan Rajab, umat Islam sibuk dengan peringatan Isra Miraj dan puasa sunnah. Sementara di bulan Ramadan, semangat ibadah memuncak untuk memburu pahala berlipat ganda. Lantas, bagaimana dengan Syaban?

Melansir laman NU Online, dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud dan An-Nasai, Rasulullah SAW pernah menyebut Syaban sebagai bulan yang biasa dilupakan umat manusia. Padahal, diabaikannya bulan ini bukan karena ia tidak mulia, melainkan karena kelalaian manusia itu sendiri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebaliknya, para salafus saleh justru memberikan perhatian ekstra pada bulan ini sebagai persiapan spiritual sebelum memasuki gelanggang Ramadan.

Bukti kemuliaan bulan Syaban tercatat dalam sejarah Islam. Setidaknya, ada tiga peristiwa besar yang terjadi di bulan ini yang menjadi tonggak penting bagi syariat umat Islam. Berikut penjelasannya

ADVERTISEMENT

1. Turunnya Perintah Bersholawat kepada Nabi

Tahukah detikers bahwa ayat yang memerintahkan kita untuk bersholawat turun pada bulan Syaban? Peristiwa ini tercatat dalam Surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Latin: Innallâha wa malâikatahû yushallûna 'alan nabiy, yâ ayyuhalladzîna âmanû shallû 'alaihi wa sallimû taslîmâ.

Artinya: "Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, sholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya."

Menurut mayoritas ulama tafsir, ayat ini turun di bulan Syaban. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sholawat dari Allah bermakna pujian, sholawat dari malaikat bermakna doa, dan sholawat dari manusia bermakna permohonan berkah.

Oleh karena itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani sangat menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak sholawat di bulan ini. Tujuannya adalah untuk membersihkan hati dan jiwa sebagai bekal menyambut bulan suci Ramadan.

2. Diturunkannya Kewajiban Puasa Ramadoan

Syaban memiliki kaitan sejarah yang sangat erat dengan Ramadan. Imam Abu Zakariya an-Nawawi dalam kitab al-Majmû' Syarah Muhadzdzab mengungkapkan fakta menarik: Kewajiban puasa Ramadan sesungguhnya diturunkan pada bulan Syaban tahun ke-2 Hijriah.

Peristiwa ini menandai "diresmikannya" kemuliaan Ramadhan. Dengan kata lain, Syaban adalah bulan di mana Allah SWT menurunkan syariat puasa wajib yang menjadi rukun Islam.

Hal ini menjadikan Syaban sebagai tonggak sejarah persiapan umat Islam dalam menerima anugerah besar berupa bulan Ramadan.

3. Peralihan Kiblat dari Masjidil Aqsa ke Ka'bah

Peristiwa bersejarah ketiga adalah peralihan arah kiblat. Sebelum menghadap ke Ka'bah (Masjidil Haram), kiblat umat Islam mengarah ke Masjidil Aqsa di Palestina.

Perubahan arah kiblat ini ditandai dengan turunnya Surat Al-Baqarah ayat 144:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya: Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.

Dalam kitab Al-Jami' li Ahkâmil Qur'an, Al-Qurthubi mengutip pendapat Abu Hatim Al-Basti yang menyatakan bahwa perintah pengalihan kiblat ini terjadi pada malam Selasa bulan Syaban, yang bertepatan dengan Malam Nisfu Syaban.

Peristiwa ini menegaskan simbol tauhid, bahwa umat Islam tidak menyembah bangunan (Ka'bah atau Masjidil Aqsa), melainkan menyembah Allah SWT yang tidak terikat oleh tempat dan arah.

Tiga peristiwa di atas membuktikan bahwa Syaban bukanlah bulan "sambil lalu" atau bulan pelengkap semata. Ia adalah bulan yang penuh dengan nilai sejarah dan kemuliaan.

Maka, jangan sampai kita termasuk golongan yang "melupakan" bulan ini. Mari isi hari-hari di bulan Syaban, terutama jelang Nisfu Syaban, dengan memperbanyak sholawat, memperbaiki kualitas ibadah, dan mempersiapkan fisik serta mental untuk menyambut tamu agung, bulan Ramadhan.

Semoga informasi ini bermanfaat, ya!

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Ramainya Jemaah Masjid Istiqlal di Malam Nisfu Syaban"
[Gambas:Video 20detik]
(mjy/mjy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads