Studi Internasional Ungkap Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan Indonesia

Studi Internasional Ungkap Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan Indonesia

Olivia Andrea - detikSumut
Kamis, 22 Jan 2026 09:30 WIB
Studi Internasional Ungkap Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan Indonesia
Foto: Getty Images/iStockphoto/Pornpak Khunatorn
Medan -

Meski reformasi pendidikan telah dilakukan, kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan banyak negara di dunia, bahkan di kawasan ASEAN. Hasil studi internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan kemampuan membaca, matematika, dan sains pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata global.

Kondisi ini menjadi alarm keras bahwa dunia pendidikan nasional belum sepenuhnya mampu menjawab tuntutan zaman. Di tengah era digital dan persaingan global, kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama kemajuan bangsa.

Fenomena Ketertinggalan Pendidikan

Sejumlah indikator memperlihatkan jelas ketimpangan pendidikan di Indonesia:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€’ Skor PISA Indonesia secara konsisten berada di bawah rata-rata negara anggota OECD dan sebagian besar negara Asia Tenggara.

β€’ Kesenjangan kualitas pendidikan antara kota besar dan daerah terpencil masih tinggi, membuat banyak siswa di wilayah tertinggal kesulitan mengakses pendidikan bermutu.

ADVERTISEMENT

Ketimpangan ini bukan sekadar soal angka, tetapi menyangkut masa depan jutaan anak bangsa yang belum mendapat kesempatan belajar secara layak.

Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan Indonesia

Para ahli, pemerhati pendidikan, dan hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor utama yang menjadi penyebab kualitas pendidikan Indonesia tertinggal:

1. Akses Pendidikan Tidak Merata

Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) masih menghadapi persoalan jarak sekolah yang jauh, kondisi alam sulit, hingga minimnya transportasi dan internet. Banyak anak harus berjalan jauh demi bisa belajar.

2. Kekurangan Guru Berkualitas

Distribusi guru belum merata. Sekolah di daerah terpencil sering kekurangan tenaga pendidik terlatih, sehingga proses belajar tidak berjalan maksimal.

3. Kurikulum Kurang Mengasah Daya Pikir

Sistem pembelajaran masih cenderung menekankan hafalan, belum optimal mendorong berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah.

4. Infrastruktur Pendidikan Minim

Masih banyak sekolah tanpa ruang kelas layak, perpustakaan, laboratorium, bahkan listrik dan internet. Kondisi ini membuat pembelajaran sulit berkembang.

5. Kesenjangan Digital

Di kota, siswa mudah mengakses pembelajaran daring. Namun di desa, sinyal internet pun sering menjadi barang langka.

6. Faktor Ekonomi Keluarga

Anak dari keluarga miskin sering terpaksa putus sekolah atau bekerja membantu orang tua, sehingga hak mereka untuk belajar terampas.

7. Pengawasan Belum Maksimal

Sistem monitoring pendidikan yang lemah membuat standar mutu sulit diterapkan merata di seluruh daerah.

Pemerintah dan DPR telah meluncurkan berbagai program, seperti kebijakan afirmatif untuk daerah 3T, peningkatan kesejahteraan guru, hingga pembangunan infrastruktur pendidikan. Namun, tantangan pendidikan tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah.

Dibutuhkan kerja sama semua pihak sekolah, keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan media untuk menciptakan pendidikan yang adil dan berkualitas. Pendidikan bukan sekadar soal bangku sekolah, tetapi tentang menyiapkan generasi yang mampu bersaing, berpikir kritis, dan membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.

Artikel ditulis Olivia Andrea, peserta maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Pengamat: Durasi Belajar Bukan Faktor Utama Tingkatkan Mutu Pendidikan"
[Gambas:Video 20detik]
(astj/astj)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads