70 Anak Terpapar Ideologi Kekerasan Ekstrem, Ini Penyebabnya Menurut Psikolog

70 Anak Terpapar Ideologi Kekerasan Ekstrem, Ini Penyebabnya Menurut Psikolog

Rindi Antika - detikSumut
Kamis, 08 Jan 2026 22:21 WIB
70 Anak Terpapar Ideologi Kekerasan Ekstrem, Ini Penyebabnya Menurut Psikolog
Konferensi Pers Densus 88 (Foto: Andhika Prasetia)
Medan -

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menemukan setidaknya 70 anak terpapar penyebaran ideologi kekerasan ekstrem melalui grup di media sosial. Menurut psikolog, berikut ini penyebabnya.

Endang Haryati, seorang psikolog menyebutkan ada beberapa penyebab mengapa anak-anak bisa tertarik kepada ideologi tertentu. Selain karena emosi yang masih rentan, rasa kesepian akibat kurangnya perhatian orang tua dapat menjadi penyebab.

"Kerentanan secara emosional, anak-anak yang merasa kesepian di rumah, yang mungkin kedua orang tuanya itu bekerja sehingga dia tidak mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya kemudian merasa dia tidak dipedulikan, tidak ada orang yang bisa mengerti kondisi dia. Nah kemudian adanya perasaan marah, dan tertarik pada satu ideologi yang akhirnya membuat dia itu diterima di suatu komunitas atau wadah, " ujarnya saat diwawancarai detikSumut, Kamis (8/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, anak-anak dan remaja yang masih dalam fase mencari jati diri dan makan hidup sangat rentan terhadap ideologi tertentu. Selain itu minimnya literasi dan pengaruh lingkungan juga sangat berpengaruh.

"Selanjutnya karena adanya kebutuhan, anak atau remaja yang saat ini sedang mencari jati diri ya, nah jadi ideologi ekstrim itu sering memberi adanya semacam deskripstif yang sederhana siapa yang benar dan siapa yang salah, kemudian minimnya literasi sosial, nah ditambah lagi mungkin lingkungan sosial," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Endang menyebut, lingkungan mulai dari tempat tinggal hingga lingkungan bermain sangat berpengaruh. Anak-anak juga cenderung menjadikan apa yang mereka lihat di media sosial dan televisi sebagai role model.

"Pengaruh teman kemudian komunitas tempat dia tinggal, komunitas bermain, komunitas sekolah nah, baik itu secara online, atau secara offline, nah kemudian ada juga namanya figure atau role model. Nah cari siapa role modelnya kan anak-anak sekarang sering menjadikan role model yang mereka lihat di televisi atau media sosial, " jelasnya.

Oleh karena itu, Endang menyebut perlunya peran orang tua untuk mencegah hal tersebut. Salah satunya ada dengan membangun kedekatan secara emosional dengan anak.

"Emang ada beberapa langkah yang harus bisa dilakukan oleh orang tua, nah ini sebenarnya lebih kepada ke pencegahan, yang pertama itu mungkin kita harus mampu untuk membangun hubungan dengan anak secara emosional agar anak merasa dia itu ada di antara orang tuanya, jadi anak itu kan biasanya ingin di dengar, ingin di hargai, sehingga dia tidak mencari keluar, karena kan ideologi ekstrim ini dapatnya dari luar ya, dari eksternal bukan internal. Kemudian, perlu adanya pendampingan, " tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, Densus 88 mengungkap temuan adanya komunitas di media sosial yang menjadi sarana penyebaran ideologi kekerasan ekstrem melalui grup bernama True Crime Community (TCC). Dari hasil penelusuran, Densus mencatat sedikitnya 70 anak di Indonesia terpapar paham tersebut.

"Komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh pendiri, organisasi, maupun institusi. Tetapi dia tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital yang merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional," kata Juru Bicara Densus 88 Polri, Kombes Mayndra Ekadalam, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, dilansir detikNews, Rabu (7/1/2026).

Artikel ini ditulis oleh Rindi Antika peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom.




(afb/afb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads