Museum Perkebunan Indonesia 1 di Kota Medan menghadirkan cara berbeda dalam menyampaikan sejarah perkebunan. Tidak hanya memamerkan benda antik atau arsip masa lampau, museum yang terletak di Jalan Brigjen Katamso ini memadukan sejarah dengan seni, teknologi, dan pengalaman multisensory.
Dengan begitu pengunjung dapat melihat, mendengar, menyentuh, hingga merasakan jejak perkebunan Indonesia.Beragam komoditas seperti tembakau, sawit, karet, tebu, kakao, dan kopi disajikan melalui berbagai medium kreatif.
Sejarah perkebunan tidak hanya dihadirkan lewat koleksi fisik, tetapi juga melalui karya seni visual, komik, puisi, instalasi suara, hingga teknologi interaktif yang memperkaya pengalaman pengunjung.
Salah satu yang menarik perhatian adalah visualisasi komik Sukma Hilang karya Masdar yang mengangkat kisah kehidupan petani dan buruh perkebunan di kawasan Deli. Komik ini tidak hanya ditampilkan secara visual, tetapi juga dilengkapi dengan narasi suara yang dapat didengarkan melalui headset.
Melalui audio tersebut, karakter dan alur cerita disampaikan dengan intonasi dan suasana yang mendukung, sehingga pengunjung lebih mudah memahami pesan yang ingin disampaikan.
Pendekatan audio-visual ini membuat pengunjung tidak sekadar membaca, tetapi juga mendengarkan cerita masa lalu.
Komik menjadi medium sejarah yang terasa lebih hidup, komunikatif, dan menyenangkan, terutama bagi pengunjung yang ingin memahami sisi kemanusiaan di balik sejarah perkebunan. Museum juga menampilkan karya instalasi interaktif berjudul Artemis & Aphrodite: Melebur dengan Ingatan Sang Daun Emas (2025). Berdasarkan papan informasi karya, instalasi ini menelusuri sejarah perkebunan tembakau Deli melalui panel tekstil transparan berlapis yang menciptakan ilustrasi multi-layer. Lapisan visual tersebut menyingkap transisi antara masa lalu dan perubahan sosial di ruang perkebunan.
Dalam penjelasan karya disebutkan bahwa instalasi ini tidak hanya untuk dilihat, tetapi juga dirasakan. Di salah satu sudut ruang, kolase mozaik kaca disusun membentuk huruf Braille. Sentuhan pengunjung akan mengaktifkan sensor yang menampilkan frase reflektif "bercermin dengan masa lalu". Melalui cahaya, teks, dan pengalaman taktil, karya ini menegaskan bahwa sejarah hadir sebagai ingatan kolektif yang membentuk identitas hari ini.
Dimensi pengalaman museum semakin lengkap melalui instalasi suara Catch The Sound (2025) karya Wasis Tanata. Berdasarkan keterangan pada papan informasi, karya ini menangkap dan mengolah bunyi dari fenomena alam perkebunan dan aktivitas sehari-hari, mulai dari kicau burung, aliran air, hembusan angin, hingga suara hasil bumi.
Simak Video "Video: Fadli Zon Resmi Luncurkan Buku Sejarah Indonesia Versi Baru"
(astj/astj)